"Tahun ini tentu mereka akan jauh terpuruk," jelas Maulana, merujuk pada wilayah terdampak bencana. "Akses jalannya saja terkendala."
Belum lagi soal cuaca. Anomali cuaca ekstrem yang melanda berbagai daerah turut mempengaruhi psikologi traveler. Orang jadi lebih berhati-hati, memilih perjalanan jarak pendek, atau malah menunda liburan sama sekali.
"Dengan cuaca ekstrem itu, banyak traveler mungkin memilih destinasi yang tidak terlalu jauh, atau yang tidak berisiko. Ini jadi satu tantangan tersendiri," kata Maulana.
Lalu, bagaimana dengan berbagai stimulus pemerintah? Program seperti diskon tiket pesawat, potongan tarif tol, hingga kebijakan kerja remote (WFH/WFA) memang diakui membantu menjaga mobilitas masyarakat. Namun begitu, langkah-langkah itu dinilai belum cukup ampuh untuk mendongkrak pertumbuhan okupansi hotel secara nasional.
Dengan segudang hambatan itu, peran libur Nataru tahun ini lebih terasa seperti bantalan. Fungsinya lebih sebagai penahan laju penurunan, ketimbang jadi katalis pertumbuhan yang diharapkan.
"Makanya kita lihat nanti finalnya gimana setelah libur Natal ini," pungkas Maulana. "Apakah pergerakan meningkat atau malah menurun, baru bisa kita lihat nanti."
Artikel Terkait
Ekonom: Konflik Timur Tengah Perkuat Urgensi Insentif Kendaraan Listrik
Analis Proyeksikan IHSG Masih Rawan Koreksi, Target Support Jauh di Bawah 7.000
Harga Emas Antam Stagnan di Rp 2,837 Juta per Gram
Bank Maspion Dapat Suntikan Dana Segar US$285 Juta dari Kasikornbank