Nilai tukar dolar AS mulai goyah di pasar Asia hari Selasa. Mata uang itu nyaris menyentuh level terendahnya dalam dua bulan terakhir. Para trader tampaknya sedang menahan napas, menunggu serangkaian data ekonomi yang akan segera dirilis. Sorotan utamanya tentu saja laporan ketenagakerjaan AS untuk November, yang sebelumnya sempat tertunda.
Indeks dolar, alat ukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, tercatat turun tipis 0,2 persen ke posisi 98,261. Angka itu mendekati level terendah sejak pertengahan Oktober lalu, menurut pantauan Reuters. Pasar memang sedang dalam mode wait-and-see.
Di sisi lain, Bureau of Labor Statistics dikabarkan akan segera merilis data gabungan ketenagakerjaan untuk bulan Oktober dan November. Penundaan sebelumnya terjadi karena masalah penutupan pemerintahan. Tak hanya itu, sejumlah data awal sektor manufaktur juga akan menyusul, menambah hiruk-pikuk kalender ekonomi pekan ini.
Nah, soal kebijakan moneter, sentimen pasar tampaknya sudah cukup jelas. Kontrak berjangka Fed funds menunjukkan probabilitas sekitar 75,6% bahwa The Fed akan bertahan, tidak mengubah suku bunga dalam pertemuan 28 Januari nanti. Angka ini hampir tidak berubah dari hari sebelumnya, berdasarkan data dari CME FedWatch.
Namun begitu, The Fed bukan satu-satunya bank sentral yang jadi perhatian. Pekan ini penuh dengan agenda kebijakan moneter global. Bank of Japan diprediksi akan menaikkan suku bunga, mungkin sekitar 25 basis poin menjadi 0,75%. Sementara itu, situasi sebaliknya terjadi di Inggris. Bank of England justru diperkirakan akan memotong suku bunga dengan besaran yang sama, menjadi 3,75%.
Lain cerita dengan kawasan Eropa. Bank Sentral Eropa (ECB) kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunganya. Begitu pula dengan Riksbank (Swedia) dan Norges Bank (Norwegia), keduanya diperkirakan akan mengambil sikap yang sama, yaitu menahan.
Pergerakan terhadap yen Jepang cukup menarik. Dolar melemah sedikit, 0,1 persen, ke level 155,07 yen. Sementara itu, euro bertahan stabil di USD1,17535. Kestabilan ini didukung oleh kabar positif dari meja perundingan perdamaian Ukraina. Poundsterling Inggris sendiri hampir tidak bergerak, datar di USD1,3376.
Mata uang Australia mencoba menguat, meski hanya tipis. Dolar Aussie naik 0,1 persen ke USD0,66445. Tapi pergerakannya terbatas, seolah tertahan. Penyebabnya? Sebuah survei swasta yang dirilis hari ini menunjukkan sentimen konsumen di Australia justru melemah pada bulan Desember.
Semua mata kini tertuju pada data-data yang akan segera keluar. Arah dolar selanjutnya sangat bergantung pada angka-angka itu.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020