Harga emas dunia sedang mengalami momen yang luar biasa. Sejak awal tahun, logam mulia itu terus meroket, dan dampaknya langsung terasa di Bursa Efek Indonesia. Saham-saham perusahaan yang bergerak di sektor emas pun ikut naik, seiring sentimen positif dari pasar komoditas global.
Data dari Tradingeconomic per 10 Desember 2025 menunjukkan fakta yang mencengangkan. Harga emas dunia telah melesat hampir 60 persen sejak Januari. Bayangkan, dari level USD 2.685 per ons, harganya kini hampir dua kali lipat. Kenaikan fantastis ini tentu saja menarik perhatian banyak pelaku pasar.
Lalu, bagaimana dengan saham-saham emas di dalam negeri? Ternyata, beberapa emiten mencatatkan pertumbuhan yang bahkan lebih gila lagi. Puncaknya ada pada PT Archi Indonesia Tbk (ARCI). Sahamnya melambung tinggi hingga 465,57 persen sepanjang tahun ini, dari Rp244 menjadi Rp1.380 per lembar. Kenaikan itu membuat kapitalisasi pasarnya membengkak ke level Rp34,37 triliun.
Tak kalah menarik, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) juga menunjukkan performa gemilang. Saham produsen perhiasan ini meroket 345,12 persen, dari Rp328 ke Rp1.460. Valuasi perusahaannya kini mencapai Rp6,72 triliun.
Secara berurutan, ini daftar pertumbuhan harga saham emas dari yang tertinggi:
ARCI: 465,57% (Rp244 > Rp1.380)
HRTA: 345,12% (Rp328 > Rp1.460)
BRMS: 143,78% (Rp402 > Rp980)
PSAB: 125,41% (Rp244 > Rp550)
ANTM: 89,64% (Rp1.545 > Rp2.930)
MDKA: 42,95% (Rp1.595 > Rp2.280)
EMAS: 23,61% (Rp3.600 > Rp4.450)
UNTR: 16,73% (Rp25.700 > Rp30.000)
AMMN: -25,66% (Rp8.475 > Rp6.300)
Dari sembilan nama di atas, tujuh di antaranya memang berbisnis inti di penambangan dan produksi emas. Yang menarik, hanya PT Amman Mineral Internasional (AMMN) yang justru terperosok, mencatatkan penurunan year-to-date.
Namun begitu, jadi juara kenaikan harga bukan berarti ARCI adalah saham emas dengan valuasi termahal. Soal harga relatif, ada metrik lain yang perlu dilihat: Price to Book Value (PBV). Di sinilah ceritanya jadi berbeda.
PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) ternyata memegang rekor PBV tertinggi. Dengan harga pasar Rp4.450 dan nilai buku Rp398,40 per saham, PBV-nya mencapai 11,17 kali. Artinya, saham ini diperdagangkan lebih dari 11 kali lipat di atas nilai buku perusahaannya. Cukup tinggi.
Posisi kedua ditempati PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dengan PBV 6,72 kali. ARCI sendiri ada di angka 6,08 kali. Sebagai pengingat, nilai buku itu cerminan aset bersih perusahaan per lembar saham. PBV di bawah 1 sering dianggap murah, sementara di atas 1 dianggap premium.
Dengan logika itu, di antara saham emas, EMAS-lah yang paling "mahal" dibanding harga wajar bukunya. Bandingkan dengan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), emiten besar yang PBV-nya "hanya" 2,08 kali. Jauh lebih rendah.
Berikut rincian PBV per 10 Desember 2025:
EMAS: 11,17x
BRMS: 6,72x
ARCI: 6,08x
AMMN: 5,57x
MDKA: 3,79x
PSAB: 2,65x
HRTA: 2,39x
ANTM: 2,08x
UNTR: 1,15x
Di sisi lain, UNTR punya PBV terendah, cuma 1,15 kali. Tapi ini perlu dicermati. Bisnis utama United Tractors bukan menambang emas, melainkan menjual alat berat. Sama halnya dengan MDKA, yang operasi tambang emasnya lebih banyak dijalankan oleh anak usahanya, yaitu EMAS tadi.
Jadi, meski harga emas naik dan saham-sahamnya ikut terbang, ternyata harga pasar relatifnya sangat beragam. Ada yang sudah sangat premium, ada juga yang masih relatif lebih terjangkau. Semuanya kembali ke pertimbangan dan strategi masing-masing investor.
Artikel Terkait
Penerima PKH dan Bantuan Sembako Akan Dilebur ke Koperasi Desa Merah Putih
Emas Anjlok ke Terendah Sebulan, Kekhawatiran Inflasi dan Ketegangan Iran-Timur Tengah Kembali Meningkat
UEA Resmi Keluar dari OPEC, Fokus pada Kepentingan Nasional
Wall Street Melemah, Kekhawatiran Kinerja OpenAI Tekan Saham Teknologi Jelang Rilis Laba Raksasa AS