Folago dan Emiten Teknologi Lainnya Melesat, Indeks Sektor Tembus 159%

- Jumat, 05 Desember 2025 | 14:25 WIB
Folago dan Emiten Teknologi Lainnya Melesat, Indeks Sektor Tembus 159%

Pasar saham teknologi lokal lagi panas. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah emiten di sektor ini menunjukkan performa yang luar biasa, jauh melampaui rata-rata pasar. Kenaikannya didorong beragam katalis, mulai dari rencana ekspansi besar-besaran hingga aksi korporasi yang menarik minat investor.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) per Jumat (5/12) sesi I menunjukkan indeks IDXTECHNO menguat 2,78% dalam sepekan. Secara tahunan, grafiknya lebih fantastis lagi: indeks ini sudah melesat 159% sepanjang 2025, menjadi sektor dengan kenaikan tertinggi.

Bicara tentang penerbang, saham PT Folago Global Nusantara Tbk (IRSX) patut dicatat. Harga sahamnya melonjak 145% dalam sebulan, mencapai Rp490 per unit. Dalam sepekan saja, masih ada kenaikan 12,39%.

Lalu, apa yang terjadi dengan Folago?

Perusahaan ini baru saja mengumumkan persiapan rights issue (PMHMETD I) lewat keterbukaan informasi tanggal 27 November lalu. Rencana ini sebenarnya sudah dapat lampu hijau dari RUPSLB pada September.

Menurut riset Indo Premier Sekuritas (4/12), Folago adalah salah satu jaringan multi-channel (MCN) terbesar berbasis TikTok di Indonesia. Dimiliki Subioto Jingga, perusahaan ini mengakuisisi mayoritas saham IRSX akhir Agustus-September 2025.

Bisnisnya beragam: dari social commerce, live entertainment, hingga Folago Go. Mereka punya ambisi besar untuk merambah ke film pendek dan teknologi AI Commerce & Digital Twin.

Skalanya cukup besar. Folago menggandeng sekitar 47.000 kreator, termasuk 100 nama papan atas. Mereka punya pusat pelatihan internal sendiri. Pada 2024, nilai GMV social commerce-nya mencapai sekitar Rp3 triliun. Dari situ, Folago mengambil komisi 15-20%.

Peluangnya masih terbuka lebar. Indo Premier melihat pangsa MCN baru menguasai sekitar 20% dari total GMV TikTok Indonesia, dan Folago termasuk tiga pemain utama. Di segmen live gifting yang pasar bulannya mencapai Rp1,3 triliun, mereka bisa dapat komisi hingga 67%.

Ekspansi terus digenjot. Folago bersiap meluncur platform film pendek "Tidak Tidur" Desember ini, bekerja sama dengan MCN dari Hong Kong. Mereka juga sudah mulai uji coba konten video pendek berbasis AI dan kembangkan digital twin untuk efisiensi produksi.

Untuk mendanai semua itu, rights issue senilai Rp3 triliun direncanakan pada Februari-Maret 2026. Kabarnya ada dukungan investor dari China. Jika ada akuisisi yang sedang dikaji itu terealisasi, laba bersih 2027 diproyeksikan bisa tembus Rp1 triliun.

Selain IRSX, masih ada beberapa nama lain yang ikut meroket. Saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), contohnya, naik 17% dalam sebulan. Baru-baru ini manajemen WIFI mengonfirmasi penandatanganan addendum kerja sama dengan KAI untuk kembangkan jaringan fiber optik di Sumatera.

"Ini menandai perluasan ekspansi kami ke Pulau Sumatera," jelas pihak WIFI, seperti dikutip media daring.

Tak ketinggalan, saham PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) dari Grup Djarum naik 15,61%. Saham PT Indointernet Tbk (EDGE) juga menguat 10,67%. Sementara itu, saham PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) dari Grup Emtek apresiasi 9%, terdorong proses IPO Superbank.

Di tengah euforia ini, pengamat pasar modal Michael Yeoh mengingatkan adanya perbedaan karakter yang mencolok antara saham teknologi domestik dan global.

Ia menilai sentimen di bursa internasional mulai menunjukkan tanda kejenuhan valuasi.

“Saham-saham tech memang bukan "favorable" di IHSG. Sementara jika kita bandingkan dengan bursa luar, sudah ada kekhawatiran terjadi "tech bubble", menyusul Magnificent 7 yang valuasinya premium, dengan rata-rata PE 23 kali,” kata Michael, Jumat lalu.

“Saham Magnificent 7 memiliki "market cap" yang setara dengan 441 saham di AS lainnya jika digabung,” imbuhnya.

Namun begitu, kondisi itu belum terlihat di Indonesia. Menurut analisis Yeoh, komposisi sektor teknologi di BEI masih kecil, bobotnya cuma sekitar 4-6%. Artinya, ruang untuk tumbuh masih sangat besar.

“Potensi untuk sektor tech meningkat, menyusul potensi pemangkasan suku bunga. Kita tahu sektor ini "capex"-nya tinggi, jadi beban "cost of fund"-nya besar,” pungkas Michael.

Setiap keputusan investasi, termasuk pembelian atau penjualan saham, sepenuhnya merupakan tanggung jawab investor.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar