Pemerintah, lewat Kementerian ESDM, lagi cari dukungan serius dari perbankan dalam negeri. Kali ini, sorotan utama ditujukan ke bank-bank BUMN atau yang tergabung dalam Himbara. Permintaannya jelas: ikut turun tangan membiayai kegiatan eksplorasi di hulu migas. Bukan cuma soal produksi di blok yang udah jalan, tapi lebih ke pencarian sumber daya baru yang masih butuh modal besar.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, ngomong blak-blakan soal ini. Menurut dia, dukungan pembiayaan dari perbankan lokal khususnya Himbara itu justru peluang emas yang gak boleh dilewatin.
"Dukungan pembiayaan kita mengharapkan kontribusi dari perbankan di dalam negeri, termasuk dari bank Himbara. Itu justru merupakan peluang yang perlu mereka maksimalkan dalam rangka bagaimana peningkatan produksi migas di dalam negeri,"
Ucap Yuliot dalam Rakor Dukungan Bisnis SKK Migas, Rabu kemarin. Dia berharap bank-bank itu bisa liat prospek bisnis di sektor hulu migas beserta seluruh ekosistem pendukungnya. Misalnya, industri pipa atau alat pengeboran.
"Kalau ada vendor-vendor yang membutuhkan pembiayaan juga, ini merupakan prospek pembiayaan yang bisa dilakukan oleh bank Himbara,"
tambahnya.
Nah, di sisi lain, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto kasih contoh nyata. Dia sebut komitmen PT Bank Negara Indonesia (BNI) yang membiayai penuh pengembangan Lapangan Mako di Blok Duyung, Natuna, yang dioperasikan Conrad Asia Energy.
"Sebagai contoh, Bank BNI itu membiayai 100 persen pengembangan Lapangan Mako di Natuna,"
ungkap Djoko.
Sebelumnya, Djoko udah angkat isu yang lebih mendasar. Dia usulin agar seluruh pendapatan dari kegiatan hulu migas dialokasikan khusus buat proyek eksplorasi. Usul ini rencananya mau dimasukin dalam revisi UU Migas. Soalnya, salah satu kendala terbesar di sektor ini ya masalah anggaran. Dana untuk eksplorasi cuma berkisar USD 1 miliar jumlah yang dianggapnya sangat kurang.
Masalahnya, bank-bank nasional selama ini ogah-ogahan kasih pinjaman untuk proyek berisiko tinggi kayak eksplorasi migas. Makanya, perlu ada terobosan pendanaan. Djoko lirik skema yang dipakai negara lain.
Menurut dia, Indonesia bisa tiru model pendanaan eksplorasi ala Inggris atau Malaysia. Intinya, semua revenue dari hulu migas diputar lagi buat eksplorasi, bukan langsung disetor ke kas negara. Gitu aja sih idenya. Tapi ya, jalan masih panjang.
Artikel Terkait
MINE Klaim Operasional Tak Terdampak Pemangkasan RKAB Nikel 2026
Wall Street Menguat Didorong Perpanjangan Gencatan Senjata AS-Iran
Konflik Timur Tengah Picu Gejolak Modal, BI Catat Pemulihan di Kuartal II-2026
BI: Ketegangan Timur Tengah Persempit Ruang The Fed Turunkan Suku Bunga