Geliat pasar modal kembali diwarnai dinamika menarik. Emiten properti PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) yang dikendalikan taipan Aguan dan Grup Salim, tiba-tiba mengubah jadwal rights issue gelaran ketiganya. Padahal, aksi korporasi ini bernilai fantastis, mencapai Rp16,7 triliun.
Pengamat pasar modal Michael Yeoh mengonfirmasi kabar ini. Menurutnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memang menunda proses rights issue dua emiten, salah satunya PANI.
"Ya, terdapat dua emiten yang ditunda rights issue-nya oleh OJK. Salah satunya PANI dan yang lain adalah INET," ujar Michael, Selasa (25/11/2025).
Namun begitu, ia menilai situasi ini masih dalam koridor wajar. "Hal ini merupakan hal lumrah. Perlu diketahui ke depan apa yang mendasari ini. Jika hanya masalah teknis, maka hanya masalah waktu untuk menunggu pernyataan efektif dari fakta material," imbuhnya.
Pergeseran jadwal ini diumumkan langsung oleh manajemen PANI melalui keterbukaan informasi BEI, Senin (24/11). Corporate Secretary PANI Christy Grassela menjelaskan, perubahan dilakukan karena perusahaan masih menunggu Surat Pernyataan Efektif dari OJK.
"Dengan demikian, seluruh tahapan dan tanggal pelaksanaan PMHMETD III yang sebelumnya direncanakan akan disesuaikan kembali setelah Perseroan menerima Surat Pernyataan Efektif dimaksud," tulis Christy dalam pernyataan resminya.
Christy menegaskan bahwa perubahan jadwal ini tidak berdampak pada operasional perusahaan. "Hingga saat ini, perseroan tidak memiliki informasi tambahan yang perlu disampaikan lebih lanjut," tuturnya.
Di sisi lain, Michael Yeoh juga menganalisis kondisi teknikal saham PANI. "Secara teknikal, PANI berada dalam posisi support di 13.700-13.200," katanya.
Ia menambahkan, ketahanan harga di area krusial ini akan menentukan langkah selanjutnya. "Mempertahankan area ini akan membuat PANI memiliki target resistance di 15.000 dan potensi kenaikan jika melewati area itu adalah di 16.000."
Fakta di lapangan menunjukkan saham PANI memang sedang tidak dalam kondisi prima. Pada Selasa (25/11) pukul 10.43 WIB, sahamnya melemah 1,40 persen ke level Rp14.075. Sepanjang 2025, properti ini sudah merosot 12,03 persen – performa yang cukup membuat investor waswas.
Rencana rights issue ini sebenarnya sudah dapat lampu hijau dari pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) 9 Oktober 2025. Jadwal awal menempatkan cum rights di pasar reguler dan negosiasi pada 25 November 2025, dengan periode perdagangan rights berlangsung 1-5 Desember 2025.
Skema rights issue ketiga PANI cukup ambisius. Perusahaan akan menerbitkan maksimal 1.212.536.300 saham baru dengan harga Rp15.000 per saham.
Dana segar yang terkumpul akan dialokasikan untuk membeli hingga 44,1 persen saham PT Bangun Kosambi Sukses (CBDK) dari PT Agung Sedayu dan PT Tunas Mekar Jaya. Nilai transaksinya mencapai Rp16,125 triliun – jumlah yang sangat signifikan.
Sisa dana sekitar Rp608 miliar rencananya akan disuntikkan ke tiga entitas anak: CISN, KUS, dan PET. Dana ini ditujukan untuk kebutuhan belanja modal perusahaan.
Kini, semua mata tertuju pada OJK. Keputusan regulator ini akan menentukan nasib rights issue PANI selanjutnya. Investor pun menunggu dengan harap-harap cemas.
Artikel Terkait
Rupiah Tembus Rp17.857 per Dolar AS, Sentuh Titik Terendah Sepanjang Sejarah
Harga Tembaga Anjlok ke Level Terendah Sepekan Akibat Serangan AS-Iran dan Dolar Menguat
BNBR Tetapkan Harga Rights Issue Rp53 per Saham, Berpotensi Dilusi 34,15 Persen
Serangan AS ke Iran Picu Kekhawatiran Baru, Harga Minyak Melonjak dan Bursa Asia Tertekan