Berdasarkan RKAB yang sudah direvisi dan diserahkan ke Kementerian ESDM, target produksi untuk 2026 ternyata turun cukup signifikan. Untuk katoda tembaga, dari rencana awal 700 ribu ton, kini diproyeksikan hanya 478 ribu ton. Itu artinya sekitar 68% dari target lama 703 ribu ton.
Skenario serupa terjadi pada emas. Dari target 45 ton, RKAB baru memproyeksikan produksi hanya 26 ton.
"Dan ini semuanya (emas) akan dikonsumsi oleh PT Antam. Tidak ada rencana untuk mengekspor emas (pada 2026),"
tegas Tony.
Yang menarik, meski volume produksi turun tembaga turun 32% dan emas 43% proyeksi pendapatan penjualan dalam RKAB baru ini hampir sama dengan RKAB lama. Sekitar USD 8,5 miliar juga.
"Tapi rencana pendapatan penjualan itu bisa hampir 100 persen sama dengan RKAB yang lama,"
tuturnya.
Berkat harga jual yang diperkirakan lebih kuat, penerimaan negara pada 2026 pun ikut terdongkrak. Dari yang semula diproyeksikan USD 2,7 miliar dalam RKAB lama, angka ini naik menjadi USD 2,9 miliar.
"Dengan harga yang diperkirakan kencang lebih baik penerimaan negara itu akan mencapai 2,9 miliar dolar,"
pungkas Tony.
Artikel Terkait
INET (Sinergi Inti Andalan Prima) Ekspansi ke Bisnis Perdagangan Peralatan Telekomunikasi
IHSG Naik 6,14%, Saham TRUK Melonjak Lebih dari 100%
Harga CPO Anjlok 6% dalam Seminggu, Pasar Khawatir Produksi Musiman Kalahkan Permintaan
Zyrex Dapat Kredit Rp178,8 Miliar dari Bank Permata untuk Ekspansi