"Dana Rp 200 triliun yang disalurkan dari Bank Indonesia ke 5 bank BUMN itu bagaimana agar mendorong pemerataan tadi? Cita-cita Presiden Prabowo ingin pertumbuhan lewat pemerataan, maka orientasi pembangunan inklusif harus dirinci," tegas Didin.
Sementara itu, ekonom senior INDEF Aviliani sudah melihat dampak awal dari kebijakan ini. Menurutnya, sejak dana tersebut digulirkan, suku bunga perbankan menunjukkan tren penurunan. Hal ini tentu membawa angin segar bagi dunia usaha.
"Sejak adanya dana Rp 200 triliun dari pemerintah di bank-bank BUMN, suku bunga langsung turun. Ketika itu mulai diguyurkan, suku bunga turun, permintaan mulai bertambah," ungkap Aviliani.
Meski begitu, dia mengingatkan bahwa penempatan dana ini tidak bisa berdiri sendiri. Perlu ada langkah-langkah pendukung dari berbagai kementerian dan lembaga agar dampaknya bisa benar-benar maksimal.
"Sekarang ini banyak sekali keinginan Presiden Prabowo yang bagus, tapi belum terimplementasi. Bank itu follow the business. Kebijakan-kebijakan pemerintah harus diarahkan ke arah mana investor masuk," tutupnya.
Artikel Terkait
BEI Hapus Pencatatan 18 Emiten, Efektif November 2026
BRI Bagikan Dividen Rp52,1 Triliun dari Kinerja 2025
Cadangan LPG Nasional Kembali Normal Setelah Sempat Kritis
ARNA Bagikan Dividen Rp330 Miliar, Yield Capai 8,4%