Di tengah tekanan pada bisnis inti, UNTR terus memperkuat strategi diversifikasi ke sektor non-batu bara:
Emas: Target penjualan 2025 dipatok di level 234 ribu troy ounce, namun berpotensi melandai ke 215-220 ribu troy ounce pada 2026 akibat keterbatasan kapasitas fasilitas tailing. Ekspansi fasilitas baru diharapkan tuntas pada 2027.
Nikel: Segmen ini ditargetkan mencatat penjualan sekitar 2 juta ton pada 2025 dengan proyeksi stabil di tahun depan. Pengembangan smelter RKEF di tambang Stargate sedang berjalan sesuai jadwal, dengan uji coba operasional direncanakan mulai kuartal IV-2025.
Respons Kebijakan: Menghadapi rencana penerapan bea ekspor emas oleh pemerintah, UNTR aktif menjajaki alternatif penjualan ke pasar domestik melalui kerja sama dengan beberapa pembeli lokal.
AKUISISI DAN EKSPANSI JANGKA PANJANG
Perseroan telah menyelesaikan akuisisi tambang emas Doup milik anak usaha PT J Resources Asia Pasifik Tbk, yang diproyeksikan mulai beroperasi komersial pada 2028 dengan kapasitas produksi 140.000-155.000 troy ounce per tahun.
Secara paralel, UNTR terus mengevaluasi peluang akuisisi tambang emas, tembaga, dan mineral lainnya, terutama di kawasan Australia, sebagai bagian dari strategi pertumbuhan berkelanjutan dan peningkatan nilai pemegang saham.
Analis pasar menilai outlook bisnis inti UNTR masih menghadapi tantangan, dengan diversifikasi ke sektor non-batu bara menjadi kunci penting dalam menjaga momentum pertumbuhan perusahaan di tengah volatilitas pasar komoditas.
Artikel Terkait
OCBC NISP Bagikan Dividen Rp1,03 Triliun, Nilai per Saham Turun 58%
Avian Brands Bagikan Dividen Final Rp709 Miliar, Total 2026 Capai Rp1,36 Triliun
Analis Soroti Anomali: Kinerja BCA Gemilang, Harga Saham Justru Anjlok
ARNA Bagikan Dividen Rp330 Miliar, Setara Rp45 per Saham untuk Tahun Buku 2025