IMF Soroti Kunci Indonesia Capai Visi Negara Maju 2045 di Tengah Peringatan Risiko Global

- Rabu, 19 November 2025 | 05:24 WIB
IMF Soroti Kunci Indonesia Capai Visi Negara Maju 2045 di Tengah Peringatan Risiko Global

Indonesia dinilai tetap berada pada jalur yang kuat untuk mewujudkan visinya sebagai negara berpenghasilan tinggi pada 2045. Penilaian optimistis ini disampaikan oleh Dana Moneter Internasional (IMF), yang juga menekankan bahwa reformasi struktural yang berkelanjutan menjadi kunci pencapaian target Indonesia Emas.

Kepala Misi IMF untuk Indonesia, Maria Gonzalez, dalam pernyataannya menyoroti ketangguhan perekonomian nasional di tengah berbagai guncangan global. IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan stabil di level 5 persen pada 2025, sebelum meningkat tipis menjadi 5,1 persen pada tahun berikutnya.

"Dukungan kebijakan fiskal dan moneter menjadi faktor pendukung utama stabilitas ini," ujar Gonzalez, seperti yang dikutip pada Selasa (18/11). Inflasi juga disebutkan telah bergerak menuju sasaran yang ditetapkan bank sentral.

Namun, di balik optimisme tersebut, IMF menyisipkan catatan peringatan. Lembaga keuangan global itu menegaskan pemerintah harus mempercepat langkah reformasi struktural yang lebih besar agar target 2045 dapat dicapai tepat waktu. Beberapa area yang menjadi fokus meliputi perbaikan infrastruktur, deregulasi, integrasi perdagangan, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk mendongkrak produktivitas.

IMF secara khusus menyambut baik langkah Indonesia yang mempercepat perjanjian dagang dengan sejumlah mitra, seperti Kanada, Uni Eropa, dan Amerika Serikat. Langkah ini dinilai krusial untuk membuka pasar yang lebih luas dan mendukung pertumbuhan jangka panjang.

Meski demikian, sejumlah risiko masih membayangi. Laporan IMF memperingatkan bahwa ketegangan dagang global, volatilitas pasar keuangan, dan ketidakpastian internasional berpotensi menekan kinerja ekonomi Indonesia. Tidak hanya faktor eksternal, risiko dari dalam negeri juga dicatat, dimana perubahan kebijakan besar yang tidak disertai rambu pengaman yang memadai dapat menciptakan kerentanan baru.

Dari sisi anggaran, IMF memproyeksikan defisit fiskal Indonesia akan melebar menjadi 2,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2025, dan meningkat menjadi 2,9 persen pada 2026. Angka ini lebih tinggi dari asumsi pemerintah dalam RAPBN 2026 yang sebesar 2,7 persen. Untuk mengatasi hal ini, IMF menekankan pentingnya pengelolaan belanja yang lebih hati-hati, penguatan mobilisasi penerimaan negara, dan efisiensi anggaran guna menjaga ruang fiskal.

Di sektor moneter, IMF menilai langkah Bank Indonesia (BI) melonggarkan kebijakan dengan memangkas suku bunga sebesar 150 basis poin dan melonggarkan likuiditas sudah tepat. Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kredit secara bertahap.

"Ruang untuk pemangkasan suku bunga tambahan masih terbuka, namun keputusan tersebut harus tetap berbasis data dan mempertimbangkan dampak tunda dari kebijakan yang telah dilakukan BI," jelas laporan tersebut. IMF juga menegaskan bahwa fleksibilitas nilai tukar Rupiah tetap penting sebagai bantalan terhadap gejolak global, sambil menyarankan agar intervensi di pasar valas tetap mempertimbangkan kecukupan cadangan devisa.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar