Dampak Lingkungan Belanja Online dan Solusi Mengurangi Sampah Kemasan
Berapa kali Anda belanja online dalam seminggu terakhir? Mungkin Anda membeli satu atau dua barang lewat e-commerce atau beberapa kali memesan makanan melalui layanan ojek online.
Masyarakat Indonesia kini sangat terbiasa dengan belanja online. Bahkan untuk barang-barang kecil seperti kopi susu, skincare, charger smartphone, hingga pulpen.
Kemudahan ini sangat membantu, namun di baliknya muncul masalah baru: tumpukan sampah plastik, bubble wrap bekas, karton tidak terpakai, dan perekat usang. Semua kemasan ini seringkali langsung dibuang ke tong sampah setelah proses unboxing.
Masalah ini semakin serius mengingat data Bank Indonesia mencatat nilai transaksi e-commerce nasional mencapai Rp 44,4 triliun (year-on-year) pada Juli 2025.
Dari total transaksi tersebut, hampir semua paket dikemas dengan plastik untuk melindungi barang. Lalu, ke mana sampah plastik itu berakhir jika pengelolaan sampah di Indonesia belum memadai?
Faktanya, sebagian besar sampah kemasan berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tanpa diolah. Sebagian lagi mencemari tanah dan laut, berubah menjadi mikroplastik berbahaya. Belum lagi jejak karbon dari proses pengiriman paket yang turut menyumbang pemanasan global.
Artikel Terkait
OAIL Konfirmasi Cahaya Misterius di Lampung Bukan Meteor, Melainkan Sampah Antariksa
Iran Buka Front Siber, Serangan Psikologis dan Spyware Gantikan Rudal
X Patuhi PP TUNAS, Batas Usia Pengguna di Indonesia Naik Jadi 16 Tahun
WhatsApp Permudah Buat Stiker Hampers Lebaran dengan Fitur AI