Petai, Kandidat Antidiabetes Alami yang Kini Diperkuat Bukti Ilmiah

- Selasa, 07 Juli 2026 | 23:06 WIB
Petai, Kandidat Antidiabetes Alami yang Kini Diperkuat Bukti Ilmiah

Hampir semua orang Indonesia punya pendapat tentang petai. Ada yang mencintainya tanpa syarat, ada yang menghindarinya karena bau yang menempel berjam-jam setelah dimakan. Namun, di balik perdebatan soal aromanya yang kontroversial, ada fakta ilmiah yang jarang masuk ke percakapan sehari-hari. Petai antidiabetes bukan sekadar klaim tradisional yang diwariskan turun-temurun. Ia kini memiliki bukti laboratorium dan uji praklinis yang cukup kuat untuk membuat komunitas farmasi internasional serius melirik Parkia speciosa sebagai kandidat bahan antidiabetes alami.

Untuk memahami mengapa petai menarik perhatian para peneliti farmasi, perlu dipahami dulu mekanisme yang menjadi target utamanya, yaitu enzim alfa-glukosidase. Enzim ini berperan dalam penyerapan karbohidrat di usus. Ketika aktif, gula dari makanan diserap dengan cepat dan kadar glukosa darah melonjak tajam setelah makan. Menghambat enzim ini adalah strategi yang sama digunakan oleh acarbose, obat diabetes yang diresepkan dokter secara luas. Bedanya, acarbose sering menimbulkan efek samping berupa kembung dan perut tidak nyaman karena ia juga menghambat enzim alfa-amilase pankreas terlalu kuat.

Penghambatan enzim alfa-amilase dan alfa-glukosidase bermanfaat dalam penanganan diabetes tipe 2 karena memperlambat pencernaan dan penyerapan glukosa dari saluran usus. Obat dengan penghambatan alfa-amilase yang lemah tapi penghambatan alfa-glukosidase yang baik berpotensi menjadi pilihan terapi yang lebih aman dengan efek samping lebih minimal. Dan itulah persis profil yang ditunjukkan oleh ekstrak petai dalam berbagai pengujian.

Angka yang Membuat Peneliti Terkesan

Riset metabolomik terbaru yang menggunakan teknologi UHPLC-QTOF-MS untuk menganalisis polong petai dari enam wilayah berbeda di Malaysia memberikan hasil yang konsisten dan menggembirakan. Petai yang dikumpulkan dari berbagai wilayah menunjukkan aktivitas penghambatan alfa-glukosidase yang baik dengan nilai IC50 antara 0,45 hingga 0,76 mikrogram per mililiter. Analisis UHPLC-QTOF-MS/MS berhasil mengidentifikasi 25 metabolit dalam polong petai.

Nilai IC50 yang sangat rendah ini adalah indikator yang sangat kuat. Semakin kecil angka IC50, semakin sedikit senyawa yang dibutuhkan untuk menghambat setengah aktivitas enzim target. Angka 0,45 mikrogram per mililiter menunjukkan bahwa petai bekerja dengan sangat efisien dalam menghambat alfa-glukosidase bahkan pada konsentrasi yang sangat kecil. Epigallocatechin gallate dan hyperin yang diisolasi dari polong petai terbukti berpotensi menghambat aktivitas alfa-glukosidase. Dua senyawa ini dikenal luas dalam literatur farmakologi sebagai flavonoid dengan aktivitas biologis yang kuat.

Riset Terbaru 2025: Petai Mentah vs Petai Matang

Salah satu temuan paling relevan untuk konsumsi sehari-hari datang dari penelitian yang diterbitkan pada Juli 2025. Para peneliti membandingkan aktivitas biologis petai mentah dan petai yang sudah dimasak menggunakan uji in vitro. Penelitian ini bertujuan menentukan kandungan fitokimia, memperkirakan kandungan total fenol dan flavonoid, serta menilai aktivitas antioksidan, antidiabetes, antiinflamasi, dan antijamur dari ekstrak etanol biji petai mentah dan matang. Fitokimia berupa terpenoid, senyawa fenolik, flavonoid, tanin, glikosida, karbohidrat, saponin, dan protein ditemukan pada kedua ekstrak.

Temuan soal perbedaan antara petai mentah dan matang ini penting secara praktis karena menunjukkan bahwa cara pengolahan berpengaruh terhadap profil bioaktif yang tersedia bagi tubuh. Proses memasak mengubah komposisi senyawa aktif, dan ini menjadi pertimbangan penting dalam pengembangan produk berbasis petai.

Bukan Hanya Bijinya, Kulitnya Pun Menyimpan Potensi

Yang semakin menarik adalah fakta bahwa potensi antidiabetes petai tidak hanya tersimpan di bijinya yang biasa dimakan. Penelitian menunjukkan ada ketidakkonsistenan yang menarik dalam temuan riset. Satu kelompok peneliti menemukan bahwa perikarp atau kulit polong petai memiliki aktivitas hipoglikemik yang lebih tinggi dibandingkan bijinya, sementara kelompok peneliti lain menemukan sebaliknya. Ketidakkonsistenan ini bukan tanda kelemahan penelitian, tapi justru petunjuk bahwa distribusi senyawa aktif dalam tanaman petai lebih kompleks dan kaya dari yang selama ini diasumsikan.

Ini membuka peluang bahwa bagian petai yang selama ini dibuang yaitu kulit polongnya bisa jadi bahan baku yang berharga untuk ekstrak antidiabetes, mirip dengan temuan pada buah pala di mana daging buahnya yang dibuang justru lebih kaya manfaat.

Senyawa Aktif di Balik Aroma yang Kontroversial

Aroma khas petai yang menyengat berasal dari senyawa sulfur organik, terutama asam amino yang mengandung gugus sulfhidril. Ironisnya, senyawa-senyawa inilah yang juga berkontribusi pada aktivitas biologis petai. Selain senyawa sulfur, petai mengandung flavonoid, tanin, saponin, terpenoid, alkaloid, glikosida, dan fenolik yang bekerja secara sinergis. Analisis fitokimia biji petai dalam berbagai pelarut mengungkapkan kehadiran karbohidrat, asam amino, alkaloid, saponin, tanin, flavonoid, terpenoid, glikosida, xantoprotein, dan fenol. Keberagaman senyawa aktif ini menjadikan petai bukan sekadar sumber penghambat alfa-glukosidase, tapi juga kandidat antioksidan dan antiinflamasi yang relevan untuk manajemen komplikasi diabetes secara menyeluruh.

Petai dan Konteks Diabetes Indonesia

Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah penderita diabetes tertinggi di dunia, dengan lebih dari 20 juta kasus yang diperkirakan terus meningkat. Di tengah realitas ini, tanaman pangan lokal yang sudah ada dalam tradisi kuliner masyarakat sejak berabad-abad menyimpan potensi yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Petai bukan tanaman asing yang harus diimpor atau dibudidayakan secara khusus. Ia tumbuh subur di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan berbagai wilayah Indonesia lainnya. Jika penelitian klinis berhasil memvalidasi efektivitas dan keamanannya pada manusia, petai bisa menjadi komponen pangan fungsional yang sangat terjangkau dan mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.

Yang Perlu Diingat Sebelum Terlalu Antusias

Penting untuk meluruskan satu hal. Sebagian besar bukti yang ada masih berada di level uji in vitro dan uji pada hewan. Uji klinis skala besar pada manusia yang secara spesifik menggunakan petai sebagai intervensi antidiabetes belum tersedia dalam jumlah yang cukup untuk membuat rekomendasi klinis resmi. Artinya, petai tidak bisa dan tidak seharusnya digunakan sebagai pengganti obat diabetes yang sudah diresepkan dokter. Tapi sebagai bagian dari pola makan sehat yang beragam, konsumsi petai dalam jumlah wajar memberikan manfaat yang sudah memiliki dasar ilmiah yang semakin kuat.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags