Misalnya, jika sistem menemukan emosi yang ekstrem atau pola perilaku adiktif, penyedia layanan harus segera mengambil langkah penanganan. Tidak boleh diam saja.
Tanggung jawabnya pun dibebankan sepenuhnya kepada perusahaan penyedia, dan itu berlaku sepanjang siklus hidup produk. Artinya, mereka harus membangun sistem untuk meninjau algoritma secara berkala, menjaga keamanan data, dan tentu saja melindungi informasi pribadi pengguna dengan sungguh-sungguh.
Selain soal keamanan pengguna, aturan ini juga menetapkan batas-batas yang tegas untuk konten dan perilaku AI itu sendiri. Layanan dilarang keras menghasilkan materi yang mengancam keamanan nasional, menyebarkan rumor, atau mempromosikan kekerasan dan pornografi. Garisnya jelas, tidak ada toleransi.
Jadi, bisa dibilang China sedang berusaha mengimbangi laju inovasi teknologi dengan pagar pengaturan yang kokoh. Mereka tak ingin perkembangan AI, sekeren apa pun, menciptakan masalah baru di masyarakat.
Artikel Terkait
Iran Buka Front Siber, Serangan Psikologis dan Spyware Gantikan Rudal
X Patuhi PP TUNAS, Batas Usia Pengguna di Indonesia Naik Jadi 16 Tahun
WhatsApp Permudah Buat Stiker Hampers Lebaran dengan Fitur AI
Resident Evil Requiem Catat Rekor, Terjual 6 Juta Kopi dalam Dua Minggu