Teori Activation-Synthesis yang dikembangkan oleh Allan Hobson dan Robert McCarley menyatakan bahwa mimpi merupakan hasil interpretasi otak terhadap sinyal acak dari batang otak. Namun, penelitian mutakhir memperluas pemahaman ini dengan menekankan peran mimpi dalam konsolidasi memori dan regulasi emosi.
Mimpi sebagai Terapis Bawah Sadar
Fase REM menciptakan lingkungan neurokimiawi yang ideal untuk pemrosesan emosi. Kadar asetilkolin yang meningkat memicu aktivitas otak, sementara penurunan norepinefrin dan serotonin menciptakan kondisi yang lebih stabil untuk mengolah pengalaman emosional.
Gangguan tidur kronis dapat mengacaukan mekanisme alami ini, memicu munculnya mimpi buruk berulang yang seringkali menjadi indikator ketidakseimbangan emosi. Studi menunjukkan bahwa orang yang mengalami gangguan stres pasca-trauma seringkali mengalami gangguan pola tidur REM, yang memperburuk kemampuan otak dalam memproses memori traumatis.
Pemahaman Baru tentang Fungsi Mimpi
Penelitian biopsikologi modern mengungkap mimpi bukan sebagai produk sampingan tidur yang tanpa makna, melainkan sebagai mekanisme kompleks yang berperan penting dalam:
- Konsolidasi memori dan pembelajaran
- Regulasi dan pemrosesan emosi
- Pemecahan masalah kreatif
- Penjagaan keseimbangan mental
Pemahaman ini mengungkap bahwa mimpi merupakan bukti bagaimana otak terus bekerja bahkan dalam keadaan istirahat, melakukan pemeliharaan dan penyembuhan diri yang essensial untuk kesehatan psikologis.
Artikel Terkait
Telkomsel Bergerak Cepat: Pulihkan Sinyal dan Bantu Korban Pascabencana Sumatera
Henti Jantung Bisa Terjadi di Mana Saja, Tindakan Anda Bisa Jadi Penyelamat
Oppo Reno 15 Rilis dengan Desain Aurora yang Menari di Bawah Cahaya
ByteDance Siapkan Rp 239 Triliun untuk Borong Chip Nvidia, Tergantung Restu AS