PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 9 Jember akan melakukan perbaikan jalur di dua pelintasan kereta api di Kabupaten Probolinggo, yakni JPL 13 Jorongan dan JPL 32 Malasan. Pekerjaan dimulai pada akhir Agustus 2026, dan sejumlah penutupan pelintasan akan dilakukan pada jam-jam tertentu, terutama dini hari, untuk meminimalkan gangguan arus lalu lintas.
Di pelintasan Jorongan, perbaikan dijadwalkan berlangsung mulai 20 Agustus hingga 2 September 2026. Penutupan penuh akan diberlakukan pada 24 dan 25 Agustus, serta kembali pada 28 Agustus. Pada 24 dan 25 Agustus, akses ditutup mulai pukul 02.00 WIB hingga maksimal 05.30 WIB. Sementara pada 28 Agustus, penutupan dilakukan untuk mendukung pemasangan pelat beton CLC di bagian tengah perlintasan.
Manajer Hukum dan Humas KAI Daop 9 Jember, Cahyo Widiantoro, menjelaskan bahwa pekerjaan di Jorongan difokuskan pada perbaikan geometri jalur karena ditemukan penurunan pada bagian rel. "Untuk kondisi existing di JPL 13 Jorongan, terdapat penurunan track sehingga perlu dilakukan perawatan secara intensif. Kami akan melakukan perbaikan geometri di JPL 13 serta mengganti rel R54," ujarnya, Kamis (20/8/2026).
Selain penggantian rel, KAI juga akan menerapkan teknologi baru berupa pemasangan beton CLC pada perlintasan Jorongan. "Untuk JPL 13 sendiri, kami menggunakan metode yang lebih inovatif, yakni pemasangan beton CLC pada perlintasan JPL 13. Ini merupakan teknologi yang baru diterapkan di Daop 9 Jember dan memiliki keunggulan lebih stabil dan lebih awet," kata Cahyo.
Sementara itu, di pelintasan Malasan, pekerjaan akan berfokus pada penggantian rel yang sudah aus dengan rel R54 baru. Pekerjaan ini dijadwalkan berlangsung pada 26 Agustus hingga 1 September 2026. Penutupan pelintasan Malasan akan dilakukan pada 26 Agustus mulai pukul 03.00 WIB hingga maksimal 05.00 WIB. "Untuk kondisi di JPL 32 Malasan, rel yang berada di perlintasan JPL 32 ini sudah mengalami keausan, sehingga perlu kami ganti dengan R54 yang baru untuk menjamin keselamatan," jelas Cahyo.
Penentuan waktu pekerjaan mempertimbangkan aktivitas kendaraan di sekitar pelintasan. Jalur tersebut masih dilalui kendaraan besar seperti bus dan truk pada malam hingga dini hari, sehingga arus lalu lintas perlu diatur selama pekerjaan berlangsung. Polisi dan Dinas Perhubungan akan ditempatkan di lokasi untuk membantu mengatur kendaraan. KAI mengimbau pengguna jalan mematuhi arahan petugas agar arus lalu lintas tetap lancar. "Kami mengimbau kepada masyarakat untuk mengikuti arahan petugas yang standby di lapangan, sehingga tidak menimbulkan kemacetan di jalan raya," ucapnya.
Bagi pengguna jalan yang biasa melintasi Jorongan, tersedia sejumlah jalur alternatif selama penutupan berlangsung. Kendaraan dapat melewati Tol Probolinggo Timur atau Tol Probolinggo Barat, sementara sepeda motor dan mobil juga dapat menggunakan akses jalan lain di kawasan desa.
Perbaikan ini dilakukan untuk mengantisipasi kondisi jalur yang semakin tidak stabil. Jika tidak segera ditangani, penurunan jalur berpotensi mengganggu kelancaran perjalanan kereta api. "Tentu jika tidak segera ditindaklanjuti dengan melakukan perbaikan geometri, ini terdapat potensi yang cukup tinggi yakni track menjadi tidak stabil. Jika track tidak stabil, maka potensi terhadap gangguan perjalanan kereta api dan bisa menyebabkan adanya rintang jalan," jelas Cahyo.
Setelah perbaikan rampung, kondisi jalur diharapkan lebih stabil dan dapat digunakan dalam jangka panjang. KAI memperkirakan perbaikan tersebut dapat bertahan hingga beberapa tahun. "Untuk sekali perbaikan itu bisa sampai lima sampai tujuh tahun," pungkasnya.
Artikel Terkait
Tagih Utang Rp500 Ribu, Pria di Probolinggo Dibacok Temannya
Tagih Utang Rp 500 Ribu, Warga Probolinggo Dibacok di Jalan Desa
Pengamen Manusia Silver Tewas Dibunuh Teman Sendiri, Dua Pelaku Ditangkap di Kediri
Bilal Indrajaya Tampil Memukau di Jazz Gunung Bromo 2026