Ratusan warga di Pulau Flores masih bertahan di tenda-tenda darurat yang didirikan di depan rumah mereka setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (15/8). Guncangan kuat yang terjadi membuat sebagian warga enggan kembali beraktivitas normal di dalam rumah karena masih diliputi rasa takut dan trauma.
Kondisi psikologis para penyintas ini menjadi perhatian serius pemerintah dalam penanganan pascagempa. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto menekankan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap kondisi kegempaan berdasarkan informasi dan kajian ilmiah dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Saat menemui penyintas di Desa Peozaka Ramba, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, Rabu (19/8), Suharyanto menjelaskan bahwa gempa susulan masih berpeluang terjadi setelah gempa utama. Namun, berdasarkan pemantauan BMKG, kekuatan gempa susulan cenderung lebih kecil dibandingkan gempa utama.
"Jangan panik, tetapi tetap waspada. Selama 2-3 minggu ke depan menurut BMKG gempa susulan itu mungkin masih terjadi. Tetapi gempa-gempa itu tidak sebesar gempa utama (red: tidak sebesar magnitudo 7,7). Bahkan jika ada isu akan terjadi tsunami menurut BMKG itu tidak mungkin. Ini menurut riset ilmu pengetahuan," jelas Suharyanto.
Warga yang rumahnya rusak diminta tetap bertahan di tenda
Menurut Suharyanto, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama bagi masyarakat yang rumahnya mengalami kerusakan. Warga diminta tidak memasuki bangunan yang rusak sebelum dinyatakan aman oleh pihak berwenang.
"Kalau rumahnya rusak cukup parah, jangan masuk dulu. Keselamatan masyarakat adalah yang utama. Tetapi bagi rumah yang aman dan sudah diperiksa, masyarakat tidak perlu takut secara berlebihan. Tetap ikuti informasi resmi, jangan percaya pada kabar yang tidak jelas sumbernya," tegasnya.
BNPB mengingatkan masyarakat agar tidak panik setiap kali merasakan getaran. Warga diminta menyikapinya dengan pengetahuan dan kesiapsiagaan, seperti melindungi diri, menjauh dari bangunan berisiko, serta mengikuti prosedur keselamatan.
Suharyanto menegaskan pemerintah bersama pemerintah daerah, BMKG, BPBD, dan unsur terkait terus memantau perkembangan kondisi kegempaan dan memberikan informasi kepada masyarakat.
"Yang kita perlukan sekarang adalah tenang dan waspada. Jangan panik, tetapi juga jangan lengah. Dengarkan informasi dari sumber resmi. Pemerintah akan terus berada di tengah masyarakat dan memastikan kebutuhan serta keselamatan masyarakat menjadi prioritas," kata Suharyanto.
Pesan tersebut disampaikan di tengah proses pemulihan masyarakat Flores. Selain membangun kembali rumah dan memenuhi kebutuhan dasar penyintas, pemulihan pascagempa juga perlu memberikan rasa aman agar masyarakat secara bertahap dapat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari.
BNPB mengajak masyarakat saling menguatkan dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Informasi resmi BMKG dan pemerintah diminta menjadi rujukan utama masyarakat dalam menghadapi potensi gempa susulan.
Artikel Terkait
Mendagri Pastikan Pemerintah Pusat Keroyok Penanganan Gempa NTT
DPR dan Pemerintah Diminta Perkuat Koordinasi Penanganan Gempa NTT
Mendagri Apresiasi Manajemen Posko Gempa Sikka, Data Terpusat dan Detail
BNPB Siapkan Bantuan Perbaikan Rumah untuk Korban Gempa Flores