Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan memulai uji coba penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) 3 kilogram untuk masyarakat mulai pekan depan. Langkah ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang untuk menggeser pemakaian LPG 3 kg atau yang akrab disebut tabung melon, dengan tujuan menekan impor gas nasional yang terus meningkat.
Namun, di balik rencana transisi energi ini, ada sejumlah hal mendasar yang perlu dipahami masyarakat terkait penggunaan sehari-hari. Salah satu yang paling krusial adalah persoalan harga. Pemerintah memastikan harga jual CNG 3 kg akan disetarakan dengan LPG 3 kg agar tidak membebani daya beli masyarakat. Meski harga jualnya sama, pengalihan ke CNG dinilai menguntungkan keuangan negara karena pasokan gas alamnya berasal dari dalam negeri.
Kebutuhan LPG nasional saat ini mencapai 8,5 juta ton per tahun, sementara produksi lokal hanya mampu menyuplai sekitar 1,8 hingga 1,9 juta ton. Sisanya harus diimpor dengan biaya tinggi. Dengan beralih ke CNG, pemerintah memproyeksikan dapat memangkas alokasi subsidi energi hingga 30 persen.
Meski harganya sama, masyarakat perlu bersiap dengan perbedaan performa saat memasak. Secara teknis, CNG adalah gas alam terkompresi, sedangkan LPG adalah gas cair. Perbedaan wujud ini berdampak langsung pada jumlah energi yang bisa ditampung dalam satu tabung. Jika CNG dikemas ke dalam tabung berkapasitas volume 7,3 liter ukuran yang sama dengan tabung hijau 3 kg jumlah isi bersih gasnya hanya sekitar 1,1 hingga 1,2 kg. Akibatnya, total energi panas yang dihasilkan CNG hanya sekitar 14.000 hingga 15.000 kcal, atau kurang dari setengah energi LPG 3 kg yang mencapai 33.000 kcal.
Artinya, jika tabung LPG biasa bisa digunakan untuk memasak selama 7 hari, tabung CNG dengan ukuran fisik yang sama diperkirakan hanya bertahan sekitar 3 hari. Warga pun harus lebih sering bolak-balik ke pangkalan atau toko untuk mengisi ulang tabung.
Selain lebih cepat habis, perbedaan besar lainnya terletak pada bobot dan fisik tabung. Karena CNG disimpan pada tekanan sangat tinggi mencapai 200 hingga 250 bar, dibanding LPG yang hanya 5 hingga 8 bar tabung CNG tidak bisa menggunakan bahan pelat besi biasa seperti tabung melon. Dinding tabungnya harus dibuat dari baja tebal tanpa sambungan (seamless steel) atau bahan komposit khusus demi keamanan ekstrem. Konstruksi tebal ini membuat bobot kosong tabung CNG mencapai 12 hingga 15 kg. Ketika diisi gas, total berat yang harus diangkat warga mencapai 13 hingga 16 kg, hampir dua kali lipat lebih berat dibanding total bobot LPG 3 kg terisi yang hanya sekitar 8 kg.
Karena teknologi pembuatan tabung bertekanan tinggi ini belum dimiliki industri dalam negeri, pemerintah akan mengimpor sekitar 100.000 unit Tabung Merah Putih perdana langsung dari China untuk kebutuhan tahap awal uji coba.
Secara keseluruhan, transisi dari LPG melon ke CNG 3 kg membawa kompromi tersendiri bagi konsumen. Meski harganya sama dan tetap disubsidi pemerintah, umur pemakaian berkurang nyaris separo. Tabung baru juga akan terasa jauh lebih berat saat diangkut pulang dari pangkalan. Selain itu, pola pemakaian berubah: jadwal belanja gas menjadi dua kali lebih sering akibat kapasitas energi per tabung yang lebih terbatas.
Artikel Terkait
Prabowo Turunkan Target Lifting Gas Bumi dalam RAPBN 2027
Belanja Subsidi dan Kompensasi APBN 2026 Tembus Rp 233 Triliun di Semester I
Antrean BBM Bersubsidi di Sumatera Kian Panjang, Pengamat Sebut Ruang Fiskal Pemerintah yang Terbatas Jadi Penyebab
Bahlil: CNG 3 Kg Bisa Hemat Anggaran Rp 30 Triliun, Harga 40 Persen Lebih Murah dari LPG