Ajudan Gubernur Maluku, Rohim Imo, meminta maaf setelah videonya bersitegang dengan seorang mahasiswa saat upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Lapangan Merdeka Ambon, Senin (17/8). Dalam video yang beredar, Rohim terlihat menghadang mahasiswa yang hendak mendekati gubernur, dan sempat melontarkan kata makian.
Peristiwa itu bermula ketika Gubernur Maluku hendak turun dari tribun usai upacara. Kawasan sekitar tribun dipadati tamu undangan, masyarakat, dan wartawan. Sejumlah ajudan berupaya membuka jalur agar gubernur bisa keluar dengan aman. Namun, situasi berubah ketika beberapa orang bergerak mendekat sambil membawa selebaran dan sebuah benda menyerupai bambu.
Menurut Rohim, dari sudut pandang petugas pengamanan, benda tersebut perlu diperiksa karena identitas dan tujuannya belum diketahui. "Di saat wawancara tersebut, beta (saya) melihat sekitar beberapa orang mendekat cepat ke arah Gubernur. Salah satu dari mereka membawa benda menyerupai bambu dan ada pula yang membawa sejenis spanduk, karton manila," ujarnya, Selasa (18/8).
Petugas kemudian meminta kelompok tersebut menunjukkan benda yang dibawa dan menanyakan asal serta keperluannya. Informasi yang diterima menyebut benda menyerupai bambu itu berkaitan dengan surat dari Tua Adat Negeri Manusela. Namun, saat kejadian, petugas tidak mengetahui isi benda tersebut.
"Bapak turun dari tribun itu orang banyak. Katong (kami) pisah-pisahkan, ada wartawan wawancara, dong (mereka) tiba muncul dengan bawa beberapa selebaran yang dalam karton manila bertulisan apa sambil bawa bambu. Katong curiga bambu itu apa isi dalam bambu itu, katong minta, dia seng (tidak) mau," jelasnya.
Rohim menegaskan pengamanan itu bukan untuk melarang masyarakat menyampaikan aspirasi. Ia mengaku telah mengarahkan kelompok tersebut untuk bertemu di kantor gubernur, bukan di area tribun yang masih ramai. "Bukan katong (kami) mau larang dong (mereka) mau ketemu. Beta sudah fasilitasi untuk ketemu di kantor, yang bersikeras ketemu di situ, lokasi tribun. Dia seng (tidak) mau ketemu di kantor," katanya.
Akui Ucapan "Monyet"
Dalam klarifikasinya, Rohim mengakui ucapan "monyet" yang terdengar dalam video memang keluar dari dirinya. Ia meminta maaf atas ucapan tersebut. Namun, ia membantah jika ucapan itu ditujukan kepada masyarakat adat, masyarakat Seram Utara, ataupun komunitas tertentu. Menurutnya, kata itu terlontar secara spontan dalam situasi pengamanan yang tegang.
"Beta (saya) mengaku dan minta maaf atas ucapan monyet itu. Beta lontarkan ke individu karena spontanitas, sebab kami sudah sampaikan ke yang bersangkutan tapi tidak diindahkan," ujarnya.
Rohim juga menegaskan tidak memiliki niat merendahkan harkat dan martabat masyarakat adat maupun kelompok tertentu. "Tidak ada sama sekali niat dan maksud beta secara pribadi untuk merendahkan harkat dan martabat manusia. Itu spontanitas berdasarkan kondisi tadi. Tolong jangan digoreng seolah beta merendahkan dia atau komunitas adat tertentu," tegasnya.
Artikel Terkait
17 Kali Jadi Inspektur Upacara, Herman Deru: Spirit Kita Tetap Spirit Menang
Libur Sekolah di Sulsel Diperpanjang, Siswa Masuk Kembali 19 Agustus
Jamuan Rakyat di Istana: Kuliner UMKM Meriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI
Momen Prabowo Cium Sang Merah Putih Usai Upacara Penurunan Bendera HUT ke-81 RI