Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, mengakui bahwa dirinya sempat bertukar pesan dengan seseorang yang mengaku sebagai kepala staf Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Meski tertipu, Burnham mengaku tidak merasa malu dan menegaskan bahwa tidak ada informasi sensitif yang dibahas dalam komunikasi tersebut.
Insiden ini terungkap setelah laporan dari Politico, yang dikutip AFP pada Rabu (19/8/2026), menyebutkan bahwa Burnham mengirimkan sejumlah pesan melalui saluran komunikasi yang tidak dijelaskan kepada orang yang ia yakini sebagai staf senior Susie Wiles, sebelum akhirnya timbul kecurigaan.
Dalam kunjungannya ke Wolverhampton, Inggris tengah, Burnham menanggapi insiden ini dengan tenang. Ia mengatakan bahwa pertukaran pesan itu berlangsung singkat dan tidak menyentuh hal-hal yang bersifat krusial. "Tidak, saya tidak merasa malu, karena pertukaran pesannya sangat minim. Tidak ada hal yang krusial, dan sebenarnya, saya segera menyadari bahwa hal ini perlu dilaporkan, dan saya pun melakukannya," ujarnya.
Artikel Terkait
Harga Minyak Naik di Tengah Ancaman Sanksi AS ke Iran dan Gangguan Pasokan
Harga Minyak Mentah Melonjak Akibat Ancaman Ekonomi AS terhadap Iran
Trump Klaim Korut Punya 57 Nuklir, Korsel Bantah
Iran Kecam Sanksi Ekonomi AS, Sebut sebagai Terorisme Ekonomi dan Pengalihan Isu