Perusahaan Game Jepang ODD No. Ajukan Bangkrut dengan Utang Rp 1,19 Triliun

- Rabu, 19 Agustus 2026 | 03:06 WIB
Perusahaan Game Jepang ODD No. Ajukan Bangkrut dengan Utang Rp 1,19 Triliun

Perusahaan Jepang di balik aplikasi game idola virtual, ODD No. Inc., telah mengajukan permohonan bangkrut. Langkah ini menjadi bagian dari gelombang kebangkrutan perusahaan di Jepang yang mencapai level tertinggi dalam 12 tahun, dipicu oleh inflasi dan kekurangan tenaga kerja.

Firma hukum Linuma & Partners mengonfirmasi bahwa ODD No. Inc., yang berbasis di Tokyo, memulai proses kebangkrutan pada bulan ini. Berdasarkan laporan Tokyo Shoko Research, perusahaan yang dikenal dengan aplikasi game interaktif *Link! Like! Lovelive!* ini memiliki kewajiban utang mencapai 10,7 miliar yen (sekitar Rp 1,19 triliun). Angka tersebut menjadikannya kebangkrutan terbesar di Jepang tahun ini jika dilihat dari total utang.

Meskipun aplikasi buatan perusahaan berhasil menarik banyak pengguna, tingginya biaya pengembangan menjadi penghalang untuk meraih keuntungan. Hal ini diungkapkan dalam laporan Tokyo Shoko Research tertanggal 13 Agustus. Perwakilan perusahaan belum dapat dimintai keterangan.

Fenomena ini terjadi di tengah rekor tertinggi indeks saham Jepang yang ditopang oleh lonjakan laba perusahaan. Namun, angka kebangkrutan justru meningkat, terutama di kalangan perusahaan kecil. Penyebabnya antara lain kenaikan biaya bahan baku akibat inflasi dan kekurangan tenaga kerja yang dipicu oleh penurunan populasi. Pada semester pertama tahun ini, jumlah perusahaan yang bangkrut naik 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, mencapai 5.346 kasus terbanyak sejak 2013.

Mayoritas kebangkrutan terjadi pada perusahaan dengan utang di bawah 100 juta yen, yang mencakup sekitar 77 persen dari total kasus pada semester pertama. Perusahaan penyedia layanan informasi seperti ODD No. mencatat lonjakan kebangkrutan yang signifikan, naik 18,5 persen menjadi 166 kasus. Hal ini dipengaruhi oleh skala usaha yang umumnya kecil dan persaingan ketat di industri yang berubah cepat akibat pengaruh AI.

Sebelumnya, runtuhnya Zentoshin Co., perusahaan pembayaran kartu kredit di Osaka, pada bulan lalu juga mengguncang bank-bank daerah dan restoran yang bergantung pada layanannya.

"Kami memperkirakan angka kebangkrutan akan tetap tinggi," ujar Hiroki Sakurai, peneliti di Tokyo Shoko Research.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags