Kepulangan Jose Mourinho ke Real Madrid pada musim ini menjadi sorotan. Tiga belas tahun setelah meninggalkan kursi pelatih di Santiago Bernabeu, pria asal Portugal itu kembali dengan reputasi yang tak lekang oleh waktu. Namun, tantangan terbesarnya bukan hanya meraih trofi, melainkan menjinakkan ruang ganti yang dikenal penuh gejolak.
Mourinho mengambil alih tim setelah periode singkat Xabi Alonso dan Alvaro Arbeloa, yang gagal mengendalikan skuat dan menuai hasil mengecewakan. Emmanuel Adebayor, yang pernah bermain di bawah asuhan Mourinho pada 2011, meyakini bahwa pelatih berjuluk 'The Special One' itu memiliki karakter yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah tersebut.
"Saya tidak tahu apakah dia akan sukses, hasil akhirnya nanti yang akan menjawabnya. Kita semua melihat ruang ganti yang kacau balau di bawah asuhan Alonso, padahal dia sebenarnya pelatih yang bagus," ujar Adebayor kepada Top Mercato, seperti dikutip Sports Mole.
"Bersama Mou, situasinya tidak akan seperti itu. Dia memiliki pengalaman luas dan karakter yang kuat untuk mengelola klub sebesar ini. Dia punya cara tersendiri dalam memimpin, dan para pemain justru akan berkembang di bawah arahannya. Jose sudah seperti saudara bagi saya, dia telah banyak berjasa bagi saya," tambah mantan penyerang asal Togo itu.
Ketegangan internal kerap mewarnai Real Madrid dalam beberapa bulan terakhir, seperti insiden antara Aurelien Tchouameni dan Federico Valverde. Namun, Adebayor menilai Mourinho memiliki kualitas khusus untuk menangani situasi semacam itu: ketegasan tanpa pandang bulu.
"Masalah pasti ada di setiap ruang ganti. Namun, satu hal yang pasti jika bersama Mou adalah adanya hal-hal tertentu yang tidak akan ditoleransi," tegasnya.
"Dia telah memenangkan segalanya: Liga Champions, Liga Europa, Liga Spanyol, dan sebagainya. Dengan manajer seperti itu, saat dia berbicara kepada Anda, Anda tidak punya pilihan selain mendengarkan," imbuhnya.
Lebih jauh, Adebayor menyoroti kemampuan Mourinho dalam melindungi pemain dari tekanan eksternal. "Dia sosok yang inspiratif. Dia tahu cara memengaruhi pola pikir pemain. Dia tidak takut pada tekanan dari jurnalis maupun suporter. Dia bersedia memikul semua beban itu sendirian demi membebaskan para pemainnya dari tekanan eksternal tersebut," ungkapnya.
Pria berusia 42 tahun itu pun mengenang kejadian yang memperlihatkan standar tinggi Mourinho. Dalam sebuah laga tandang melawan Villarreal, Real Madrid unggul 2-0 saat jeda, tetapi permainan mereka dinilai buruk. Mourinho lantas memarahi Cristiano Ronaldo, yang kala itu sudah menjadi pemenang Ballon d'Or, dengan kata-kata keras.
"Jose memarahi Cristiano Ronaldo habis-habisan. Dia berani memaki CR7 yang saat itu sudah menjadi pemenang Ballon d'Or dengan kata-kata yang sangat keras! Pada akhirnya, Ronaldo mencetak dua gol dan kami menang 5-0," kenang Adebayor.
"Hal itu menunjukkan standar tinggi dan keberanian yang dimiliki Jose. Sangat sedikit manajer yang berani menegur keras pemain seperti Cristiano Ronaldo. Saya juga ingat pernah melihatnya membentak serta mencoret Casillas dan Sergio Ramos, yang merupakan juara Piala Dunia. Dia tidak takut pada apa pun," tambahnya.
Bagi Adebayor, anekdot itu merangkum metode Mourinho: status bintang tidak cukup untuk lolos dari tuntutan sang manajer. Kini, dengan kembalinya pelatih yang paham betul tekanan pekerjaan ini, para pemain Real Madrid tahu apa yang akan mereka hadapi. Adebayor yakin, di bawah asuhan Mourinho, ada batasan yang tak akan dilanggar.
Artikel Terkait
Real Madrid Putuskan Tak Buru Gelandang Baru Usai Rodri Pilih Barcelona
Mourinho: Real Madrid Tak Butuh Rodri
Mourinho Ungkap Keraguan Rodri Sebelum Gabung Barcelona
Barcelona Resmi Dapatkan Rodri dari Manchester City