Populasi Gajah di Bengkulu Menyusut, Habitat Terancam Alih Fungsi Lahan

- Selasa, 18 Agustus 2026 | 10:31 WIB
Populasi Gajah di Bengkulu Menyusut, Habitat Terancam Alih Fungsi Lahan

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) mencatat populasi gajah di Bengkulu saat ini hanya tersisa sekitar 25-30 ekor. Penyusutan ini diduga kuat akibat berkurangnya habitat alami mereka.

Kepala BKSDA Bengkulu, Agung Nugroho, membenarkan bahwa jumlah gajah di wilayahnya sangat terbatas. Data BKSDA menunjukkan angka tersebut sudah termasuk gajah binaan. "Kalau gajah liar yang terekam punya empat anakan dan sisanya gajah dewasa. Jadi secara populasi masih bereproduksi," katanya, Selasa (18/8/2026).

Kondisi habitat menjadi tantangan besar. Berkurangnya tutupan hutan dan alih fungsi lahan menjadi perkebunan sawit dinilai dapat semakin mengancam keberadaan gajah. "Jika terus terjadi maka populasi gajah ini terancam dan ini yang harus kita cegah," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Kanopi Hijau Indonesia, Ali Akbar, menyebut populasi gajah di Bentang Alam Seblat, Kabupaten Bengkulu Utara, berada pada kondisi kritis. Fragmentasi habitat, perambahan hutan, dan konflik dengan manusia menjadi ancaman serius bagi satwa dilindungi tersebut.

"Populasi gajah yang tersisa di kawasan ini kurang dari 50 ekor. Fakta ini menjadi indikator kuat bahwa kawanan gajah Sumatera di sini sedang berada pada titik kritis menuju kepunahan lokal," katanya.

Berdasarkan analisis Koalisi Bentang Seblat, dari sekitar 80.978 hektare kawasan inti Bentang Seblat, sekitar 30.017 hektare telah dirambah dan berubah menjadi perkebunan sawit. Ali menambahkan, penyusutan habitat juga diperparah oleh aktivitas pembalakan dan fragmentasi kawasan yang memutus jalur pergerakan gajah.

"Habitat gajah di Bentang Alam Seblat kini dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Habitat yang terfragmentasi dan pembunuhan gajah dengan cara diracun menjadi faktor utama penurunan populasi," ujar Ali.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.