Kapten Sigit Hani Hadiyanto, Pilot yang Selamat dari Kecelakaan Pesawat dan Bangkit dengan 21 Operasi

- Senin, 17 Agustus 2026 | 06:00 WIB
Kapten Sigit Hani Hadiyanto, Pilot yang Selamat dari Kecelakaan Pesawat dan Bangkit dengan 21 Operasi

Kapten Sigit Hani Hadiyanto adalah pilot yang selamat dari kecelakaan pesawat pada 1997. Meski mengalami luka bakar serius di wajah, leher, dan kedua lengannya, ia tidak menyerah pada keadaan. Ia justru terus berkarya di dunia penerbangan dan menginspirasi banyak orang.

Sigit lahir di Cimahi pada 5 Agustus 1974. Setelah lulus dari Sekolah Penerbangan Curug pada Maret 1996, ia langsung menempuh pendidikan instruktur penerbang selama enam bulan. Namun, kariernya sebagai pilot muda berubah total setelah kecelakaan yang terjadi pada 28 Januari 1997.

Saat itu, Sigit bertugas sebagai instruktur penerbangan dan membawa seorang siswa bernama Dwi Krismawan menggunakan pesawat TB-10 Tobago. Pesawat tersebut menabrak medan di sekitar Gunung Gede setelah terlalu dekat dengan wilayah pegunungan. Kecelakaan ini termasuk kategori Controlled Flight Into Terrain (CFIT), yaitu kondisi ketika pesawat masih dalam kendali dan tidak ada gangguan teknis, tetapi secara tidak sengaja menabrak permukaan bumi.

Pesawat langsung terbakar saat Sigit dan Dwi masih di dalam kabin. Sigit sempat kehilangan kesadaran, tetapi setelah sadar ia berusaha memastikan kondisi siswanya. Awalnya ia mengira Dwi masih terjebak, tetapi kemudian mendengar suara siswanya yang ternyata sudah berhasil menyelamatkan diri. Keduanya selamat, meski sama-sama menderita luka bakar serius.

Sigit mengalami luka bakar sekitar 27 persen di tubuhnya, terutama di wajah, leher, dan kedua lengannya. Ia dievakuasi menggunakan helikopter dan menjalani perawatan intensif selama kurang lebih 15 bulan. Selama masa pemulihan, ia menjalani sedikitnya 21 kali operasi, dengan cedera terberat di bagian wajah.

Perjuangan Menerima Kondisi Baru

Ketika pertama kali melihat wajahnya setelah kecelakaan, Sigit mengaku sangat terpukul. Kelopak mata kanannya hilang dan bagian bawah bibirnya tertarik ke kiri. Ia sempat marah dan sulit menerima perubahan tersebut. Namun, seiring waktu, ia mulai menerima keadaan dan membangun semangat untuk menatap masa depan. Ia menguatkan diri dengan mengingat Tuhan, dukungan keluarga, dan dorongan rekan-rekan kerjanya.

Meski demikian, kembali bekerja tidaklah mudah. Sigit sempat merasa minder dan kehilangan kepercayaan diri karena perubahan pada wajahnya. "Saya sempat berdiri cukup lama karena muncul perasaan apa yang akan nanti orang-orang lihat dari diri saya," ujarnya, dikutip dari program On The Spot Reveal, Trans 7.

Ia juga merasa sedih ketika orang-orang merasa takut melihatnya. Suatu ketika, anak tetangganya menangis ketakutan saat bertemu dengannya. "Seorang tetangga yang datang menjenguk bersama anaknya dan akhirnya tak bisa tinggal lama-lama. Anaknya terus-terusan takut dan menangis," kenangnya. Sigit merasa terpukul karena kondisi fisiknya membuat ia kesulitan menenangkan anak yang ketakutan, padahal ia merasa dirinya mudah bergaul dan selalu menghargai perasaan orang lain.

Dukungan Keluarga

Setelah menikah pada 2005 dan dikaruniai tiga anak, Sigit sempat khawatir bagaimana anak-anaknya menerima kondisinya. Namun, kekhawatiran itu tidak terbukti. Ketiga anaknya sudah terbiasa melihat kondisi sang ayah sejak kecil sehingga dapat menerimanya dengan baik. Meski demikian, perasaan sedih sempat muncul ketika putri sulungnya mendapat respons kurang nyaman dari teman-temannya di sekolah.

Sigit kemudian memberikan nasihat kepada putrinya. "Mereka menemui beberapa reaksi dari rekan-rekannya pada saat bersekolah, tapi saya sampaikan 'inilah kondisi ayahmu, ini bukan sesuatu yang dianggap malu mengingat ayahmu menerima kondisi ini pada saat bertugas, ceritakan saja ke teman-teman'," katanya. Ia pun semakin sering mengantarkan putrinya ke sekolah. "Saya semakin kuat niatnya untuk menemani dia ke sekolah dan itu membuat dia yakin bahwa ayahnya tidak ragu untuk bertemu teman-temannya," ujarnya.

Meski harus hidup dengan kondisi fisik yang berbeda, karier Sigit justru terus berkembang. Ia tetap aktif sebagai instruktur penerbangan dan mengajar di Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia serta memberikan pelatihan di sejumlah maskapai penerbangan di Indonesia. Kisahnya menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk berkarya dan menginspirasi.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags