Gempa NTT Tewaskan 53 Orang, Ribuan Warga Mengungsi

- Senin, 17 Agustus 2026 | 06:10 WIB
Gempa NTT Tewaskan 53 Orang, Ribuan Warga Mengungsi

Gempa bumi berkekuatan signifikan mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026). Bencana ini menimbulkan korban jiwa, merusak ratusan bangunan, dan memaksa ribuan warga meninggalkan rumah mereka.

Hingga Minggu (16/8), upaya penanganan masih terus berlangsung di sejumlah wilayah terdampak. Berikut fakta terbaru seputar gempa NTT, mulai dari jumlah korban hingga bantuan yang dikirim pemerintah.

Korban Jiwa dan Luka-luka

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 53 orang meninggal dunia akibat gempa ini. Korban tersebar di beberapa kabupaten, dengan jumlah terbanyak di Manggarai dan Manggarai Timur.

"Total kami mencatat 53 jiwa meninggal dunia dengan rincian, Kabupaten Manggarai Barat, satu jiwa. Kabupaten Manggarai Timur 20 jiwa, Kabupaten Manggarai: 25 jiwa, Nagekeo 1 jiwa, Sikka 4 jiwa, Ende 2 jiwa," ujar Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari dalam konferensi pers, Minggu (16/8/2026).

Selain korban meninggal, BNPB mencatat 135 orang mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan beragam. Sebagian dari mereka masih menjalani perawatan di fasilitas kesehatan.

Ribuan Warga Mengungsi, Rumah dan Fasilitas Rusak

Gempa juga menyebabkan kerusakan parah pada bangunan dan fasilitas publik. Berdasarkan pemutakhiran data BNPB hingga Minggu (16/8) pukul 00.00 WIB, tercatat 914 rumah rusak berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan.

Kerusakan juga terjadi pada 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, serta 38 kantor pemerintah. Lebih dari 5.000 warga terdampak harus mengungsi, dengan konsentrasi terbesar di Kabupaten Sikka dan Manggarai.

Status Tanggap Darurat Ditetapkan

Gubernur NTT Melki Laka Lena menetapkan status tanggap darurat bencana gempa bumi selama 14 hari, berlaku sejak 15 hingga 28 Agustus 2026, melalui Keputusan Gubernur NTT Nomor 305/KEP/HK/2026.

"Penetapan status tanggap darurat dilakukan untuk mempercepat penanganan dampak bencana, sekaligus mempermudah akses, koordinasi, dan komunikasi antarpihak dalam mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia," kata Melki.

Selama masa tanggap darurat, sumber daya diarahkan untuk pencarian dan evakuasi korban, pelayanan kesehatan, pemenuhan kebutuhan dasar, penyediaan tempat pengungsian, serta pemulihan akses transportasi dan infrastruktur.

Gempa Susulan Kembali Terjadi

Aktivitas gempa susulan masih berlanjut di wilayah NTT. Pada Minggu (16/8) pukul 13.51 WIB, gempa berkekuatan magnitudo 5,7 mengguncang wilayah 81 kilometer timur laut Ruteng, Manggarai, dengan kedalaman 10 kilometer.

BMKG menyebut gempa tersebut merupakan susulan dari gempa kuat yang terjadi sehari sebelumnya. Sebelumnya, Ruteng dan sekitarnya juga telah mengalami sejumlah aktivitas gempa dalam waktu berdekatan.

Bantuan dan Tim Gabungan Dikerahkan

Presiden Prabowo Subianto mengirimkan 50 ribu paket bantuan ke wilayah terdampak gempa NTT. Bantuan tersebut dikirim menuju Maumere pada 15 Agustus 2026 untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak bencana.

Selain bantuan logistik, pemerintah mengerahkan jajaran kementerian dan lembaga untuk menangani dampak gempa secara langsung. Tim tersebut melibatkan Kemenko PMK, Kemendagri, Kementerian PU, BNPB, Basarnas, Bulog, PLN, Pertamina, dan Telkom.

Prabowo mengatakan pemerintah terus mempercepat penanganan di lapangan. "Pemerintah terus bergerak cepat dan terkoordinasi dalam menangani dampak bencana serta memastikan masyarakat terdampak mendapatkan bantuan dan kebutuhan dasar yang diperlukan," kata Prabowo lewat Instagram @presidenrepublikindonesia, Minggu (16/8).

Penanganan dan Pendataan Masih Berlangsung

Tim gabungan bersama BPBD masih bersiaga melakukan penyisiran, pendataan, dan verifikasi dampak gempa di sejumlah wilayah. Kebutuhan dasar para pengungsi juga menjadi perhatian dalam penanganan darurat.

Pemerintah terus mengerahkan sumber daya untuk mempercepat proses evakuasi, pemenuhan kebutuhan warga terdampak, serta pemulihan kondisi di wilayah yang mengalami kerusakan akibat gempa.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags