Sebuah unggahan dr. Ryu Hasan, dokter yang dikenal kerap mengkritik agama, kembali memantik perbincangan. Kali ini ia mempertanyakan kemungkinan manusia di masa lalu melakukan perjalanan ke langit. Namun, jika yang dimaksud adalah Isra Mikraj, ada kekeliruan mendasar yang perlu diluruskan.
Dalam Al-Qur'an surat Al-Isra ayat 1, Allah berfirman, "Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam..." Kata yang digunakan adalah asra, bukan sara. Perbedaan kedua kata ini cukup krusial. Asra dalam konstruksi kalimat tersebut bermakna bahwa Allah yang memperjalankan hamba-Nya, bukan hamba itu yang berjalan sendiri.
Analogi sederhananya begini: "Saya menyeberangi lautan" berbeda dengan "saya diseberangkan". Yang pertama menekankan kemampuan saya, yang kedua menunjukkan ada pihak lain yang membawa. Dalam Isra Mikraj, Nabi Muhammad bukanlah pihak yang digambarkan melakukan perjalanan dengan kekuatannya sendiri. Beliau adalah hamba yang diperjalankan oleh Allah.
Maka ketika muncul pertanyaan, "Mana mungkin manusia zaman batu pergi ke langit?", pertanyaan itu sejak awal sudah salah alamat. Yang perlu dipertanyakan bukanlah "mampukah manusia melakukannya?", melainkan "mampukah Allah melakukannya?". Bukankah keimanan kepada Tuhan Yang Mahakuasa justru bertumpu pada keyakinan bahwa tidak ada yang mustahil bagi-Nya?
Rantai argumen yang menyimpulkan bahwa kisah Isra Mikraj hanyalah dongeng karena manusia zaman batu mustahil ke langit, bermasalah sejak premis pertama. Yang diklaim Islam adalah perbuatan Allah, sementara yang dibantah adalah kemampuan manusia. Justru karena manusia tidak mampu, peristiwa itu disebut mukjizat.
Bahkan jika manusia menggunakan alat bantu atau teknologi canggih sekalipun, hal itu tidak menjelaskan klaim Isra Mikraj. Sebab klaimnya bukan bahwa Muhammad berhasil mencapai langit dengan kemampuan atau teknologi manusia, melainkan bahwa Allah memperjalankan hamba-Nya.
Keterangan "diperjalankan" ini sebenarnya baru menjawab pertanyaan apakah mukjizat itu mungkin. Pertanyaan berikutnya yang lebih penting adalah mengapa kita percaya Isra Mikraj benar-benar terjadi. Jawabannya sederhana: karena Al-Qur'an mengabarkannya, dan kita meyakini Al-Qur'an sebagai wahyu Allah.
Urutan berpikir umat Islam bukan sekadar "cerita ini luar biasa dan Allah mungkin melakukan apa saja, maka saya percaya". Melainkan: Allah ada dan Mahakuasa, mukjizat mungkin terjadi, Al-Qur'an adalah wahyu Allah, Al-Qur'an mengabarkan Isra Mikraj, maka kita menerima berita tersebut.
Lalu, bagaimana kita sampai pada keyakinan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu Allah? Tentu bukan sekadar karena Al-Qur'an sendiri yang mengatakannya. Ada alasan-alasan yang mendasari keyakinan itu. Salah satunya, Al-Qur'an menantang manusia untuk mendatangkan sesuatu yang semisal dengannya. Jadi, kepercayaan terhadap Isra Mikraj berdiri di atas keyakinan terhadap sumber beritanya, bukan sekadar karena kisah itu secara logis mungkin terjadi.
Dari sini terlihat kekeliruan yang kerap terjadi dalam sebagian kritik ateis. Bukan karena argumennya selalu rumit, tetapi kadang hanya satu premis yang bergeser, satu konteks yang dihilangkan, atau satu istilah yang tidak dipahami. Dari kesalahan kecil itu lahir kesimpulan besar: salah memahami klaim, menganggapnya mustahil, lalu menyebutnya omong kosong atau dongeng.
Peristiwa ini juga mengingatkan bahwa profesi bukanlah ukuran kebenaran. Seorang dokter tentu ahli dalam bidang kedokteran, tetapi gelar dokter tidak otomatis menjadikan seseorang ahli dalam tafsir, hadis, sejarah Islam, atau agama. Jangan silau dengan gelar atau profesi. Periksa premisnya, periksa sumbernya, dan periksa kesimpulannya.
Tulisan ini bukan untuk menyerang pribadi dr. Ryu Hasan, melainkan karena tulisan yang keliru dan memiliki jangkauan luas layak diluruskan secara terbuka. Sebab tulisan yang keliru namun dibiarkan beredar bisa menjadi "pengetahuan" bagi generasi berikutnya. Hari ini dibaca ratusan orang, besok bisa ribuan. Dan bisa jadi suatu hari anak cucu kita membacanya tanpa pernah menemukan bantahannya.
Karena itu, jangan biarkan orang yang paling banyak berbicara menjadi satu-satunya yang didengar. Bantahlah kekeliruan dengan ilmu. Sebab kebenaran tidak ditentukan oleh profesi orang yang mengucapkannya. Dan jangan sampai kita salah mendiagnosis mukjizat hanya karena gagal memahami klaimnya.
Artikel Terkait
Tauhid sebagai Fondasi Keadilan Global