Israel Habiskan Dana Besar untuk Perbaiki Citra di AS Lewat Manipulasi AI

- Senin, 17 Agustus 2026 | 01:16 WIB
Israel Habiskan Dana Besar untuk Perbaiki Citra di AS Lewat Manipulasi AI

Israel menggelontorkan puluhan juta dolar untuk memperbaiki citranya di Amerika Serikat, termasuk dengan memengaruhi cara platform kecerdasan buatan (AI) menggambarkan negara tersebut. Upaya ini terungkap dalam laporan Politico yang dirilis Jumat lalu.

Langkah ini muncul di tengah memburuknya persepsi publik AS terhadap Israel. Menurut jajak pendapat Pew Research Center pada Juni, enam dari sepuluh orang dewasa AS kini memandang Israel secara negatif, naik dari 53 persen tahun lalu dan 42 persen pada 2022. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahkan kurang populer, dengan 65 persen responden menyatakan kurang atau tidak percaya pada kebijakannya.

Politico merinci kampanye senilai 100.000 dolar AS yang bertujuan memengaruhi model bahasa besar seperti ChatGPT agar menjawab pertanyaan tentang Gaza dan perang Israel-Hamas dengan cara yang lebih menguntungkan Israel. Upaya ini berpusat pada Hanover Institute for Public Policy, sebuah situs web yang menerbitkan laporan anonim mengenai antisemitisme dan isu geopolitik.

Proyek ini dijalankan melalui perusahaan humas Prancis, Havas Media, yang menangani sebagian besar upaya memengaruhi opini publik AS bagi Israel dan terdaftar di bawah Undang-Undang Pendaftaran Agen Asing (FARA) AS, serta subkontraktornya, agensi periklanan Piro Inc, yang bertindak atas nama Badan Periklanan Pemerintah Israel (LaPam).

Hanover Institute mendeskripsikan kegiatannya sebagai sesuatu yang bersifat "dokumenter, bukan deklaratif" dan menyatakan penelitian mereka murni akademis. Namun, dokumen FARA yang diserahkan ke Departemen Kehakiman AS pekan lalu mengaitkan lebih dari selusin artikel lembaga tersebut dengan kampanye humas yang melibatkan "pembuatan dan penyebaran materi informasi faktual yang didukung sumber" dengan tujuan "mengedukasi" publik AS mengenai Israel.

Situs web tersebut memuat sejumlah laporan tanpa atribusi yang dikemas dalam bentuk pertanyaan, seperti "Apakah Penyiksaan terhadap Tahanan Palestina Merupakan Kejahatan Perang?" dan "Siapa Agresor dalam Konflik Israel-Palestina?". Menurut Politico, format ini dirancang agar materi tersebut mudah diambil dan dikutip oleh model bahasa besar (LLM).

Politico juga menyebutkan adanya penanda teknis yang menghubungkan situs web itu dengan Res, sebuah perusahaan rintisan AI berbasis di Seattle yang membantu klien mendapatkan rekomendasi dari model-model AI. Kaitan ini dikonfirmasi oleh CEO Res, Hai Tran, melalui surel.

Meskipun dokumen FARA yang diajukan Piro tidak secara eksplisit menyebutkan upaya memengaruhi LLM sebagai tujuan, Politico melaporkan bahwa ChatGPT dan Perplexity sama-sama mengutip materi dari Hanover Institute saat menanggapi pertanyaan netral mengenai Gaza dan Israel.

Upaya Sebelumnya

Ini bukan upaya pertama yang melibatkan Havas untuk memengaruhi opini publik atas nama Israel. Menurut investigasi Wall Street Journal yang diterbitkan bulan lalu, perusahaan tersebut sebelumnya mempekerjakan mantan manajer kampanye Presiden AS Donald Trump, Brad Parscale, untuk kampanye senilai 46,5 juta dolar AS. Kampanye itu mencakup penyebaran pesan pro-Israel buatan AI yang ditujukan kepada warga Amerika, serta pembuatan situs web dan unggahan yang dirancang untuk memancing respons lebih positif dari platform-platform AI.

Musim gugur lalu, Responsible Statecraft melaporkan bahwa Havas Media juga mengelola "Kampanye Influencer" dengan nilai pembayaran 900.000 dolar AS untuk memproduksi konten yang mendukung Israel.

Kritik dari Dalam Negeri AS

Rasa frustrasi terhadap Israel tidak hanya dirasakan masyarakat umum; kalangan politisi pun semakin kritis. Bulan lalu, lebih dari 100 anggota DPR dari Partai Demokrat mendukung amendemen yang bertujuan memangkas bantuan AS untuk Israel sebesar 3,3 miliar dolar AS. Upaya tersebut gagal akibat penentangan dari Partai Republik, namun menyoroti kesenjangan partisan yang kian melebar: hanya dua tahun lebih sedikit yang lalu, dukungan serupa hanya datang dari 37 anggota DPR Demokrat.

Trump selama ini cenderung mendukung Israel, namun ia berulang kali mengkritik Netanyahu. Netanyahu sendiri sempat mengecam gencatan senjata dengan Iran yang diumumkan presiden AS tersebut pada awal musim panas ini, serta menolak rencana perdamaian 15 poin yang diusulkan Trump untuk Gaza. Menurut laporan media, Trump juga belum memberikan dukungan kepada Netanyahu menjelang pemilihan bulan Oktober dan berulang kali menghindari pertanyaan mengenai pemilihan kembali Netanyahu. Dua pejabat senior AS mengatakan kepada Axios pekan ini bahwa meskipun Trump menyukai Netanyahu secara pribadi, ia merasa frustrasi dengan kebijakan-kebijakan Netanyahu dan menyebut Netanyahu sebagai "musuh terburuk bagi dirinya sendiri."

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags