Ketegangan antara Iran dan Israel terus berlanjut, namun Teheran belum juga melancarkan serangan balasan langsung. Sejumlah analis menilai, salah satu pertimbangan utama Iran adalah dampak politik yang bisa ditimbulkan oleh serangan tersebut bagi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang tengah bersiap menghadapi pemilu legislatif pada 27 Oktober 2026.
Menurut analisis yang berkembang, serangan Iran justru dapat memperkuat posisi Netanyahu. Sebab, eskalasi militer dari luar kerap memicu fenomena 'rally-round-the-flag', di mana publik bersatu di belakang pemimpinnya saat menghadapi ancaman eksternal. Kondisi ini bisa mengalihkan perhatian dari kritik domestik terhadap penanganan perang dan masalah hukum yang membelit Netanyahu.
Namun, penundaan serangan oleh Iran tidak semata-mata karena alasan elektoral. Ada sejumlah faktor strategis dan geopolitik yang membuat Teheran memilih untuk menahan diri.
Diplomasi dan Tekanan AS
Iran saat ini tengah fokus pada proses diplomasi intensif. Teheran sempat menunda aksi militer untuk memberi ruang bagi mediasi internasional, termasuk melalui Qatar dan Pakistan, dalam merundingkan gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Selain itu, Iran harus memperhitungkan respons keras dari Presiden AS Donald Trump. Serangan ke Israel berisiko memicu konfrontasi langsung dengan militer AS, sesuatu yang ingin dihindari Teheran selama opsi diplomatik atau pelonggaran sanksi ekonomi masih memungkinkan.
Pertimbangan Militer dan Risiko Balasan
Peta kekuatan militer di kawasan telah berubah drastis. Kehadiran armada tempur AS yang besar di Timur Tengah mempersempit ruang gerak Iran. Israel pun telah menegaskan bahwa jika diserang, mereka akan melancarkan serangan balasan besar-besaran untuk menghancurkan infrastruktur militer dan situs nuklir strategis Iran.
Strategi Alternatif: Perang Siber dan Disinformasi
Alih-alih serangan rudal frontal, intelijen Israel menduga Iran dan sekutunya lebih memilih metode lain. Mereka diduga mencoba memengaruhi jalannya pemilu 27 Oktober melalui operasi siber, disinformasi, dan perang psikologis. Tujuannya untuk memperdalam polarisasi politik di Israel dan memanfaatkan kejenuhan publik terhadap perang guna melemahkan koalisi Netanyahu di kotak suara.
Dengan demikian, Iran tampaknya sangat menyadari bahwa serangan militer langsung dapat menjadi 'hadiah politik' bagi Netanyahu. Oleh karena itu, Teheran memilih menahan diri, mengutamakan negosiasi dengan AS, dan beralih ke strategi jangka panjang untuk menekan Israel tanpa memicu perang regional yang merugikan posisi mereka sendiri.
Artikel Terkait
Imigrasi: WNA Israel Masuk RI Pakai Paspor Negara Lain
Imigrasi Buka Suara soal Warga Israel yang Disebut Bisa Masuk dan Tinggal di Bali
Netanyahu dan Kushner Bersitegang soal Rencana Damai AS untuk Gaza
Rencana Gaza Trump Diuji oleh Penolakan Netanyahu