Sedikitnya 11 orang tewas dan 19 lainnya luka-luka dalam serangan udara Israel yang menghantam Lebanon selatan. Pemerintah Lebanon mengonfirmasi jumlah korban tersebut, sementara ketegangan di kawasan itu kembali memanas.
Serangan yang berlangsung pada Sabtu (15/8) dini hari itu menyasar dua wilayah di distrik Nabatieh, yakni Ansar dan Deir ez-Zahrani. Di Ansar, tujuh orang tewas, termasuk tiga anak-anak, dan dua orang luka-luka. Sementara itu, di Deir ez-Zahrani, empat orang tewas dan 17 lainnya luka-luka.
Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Israel dan Hizbullah. Hizbullah mendesak pemerintah Lebanon untuk meninggalkan negosiasi langsung yang mereka sebut "memalukan" dan berhenti bergantung pada mediasi Amerika Serikat. Kelompok itu menilai Washington lebih mendukung kepentingan Israel ketimbang kedaulatan Lebanon.
Dalam pernyataannya, Hizbullah memperingatkan bahwa serangan Israel akan dibalas dengan "tanggapan yang sesuai". "Musuh Israel harus memahami dengan baik bahwa serangan, pelanggaran, dan upaya mereka untuk memaksakan fait accompli tidak dapat berlanjut, dan akan dibalas dengan apa yang pantas mereka dapatkan," demikian bunyi pernyataan tersebut.
Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, mengecam serangan itu sebagai "pembantaian". Menurutnya, tindakan Israel merupakan kelanjutan dari upaya pemusnahan di Lebanon selatan.
Militer Israel mengklaim serangan itu menyasar infrastruktur Hizbullah di Nabatieh dan Ansar. Mereka menyebutnya sebagai respons terhadap aksi yang menargetkan tentara Israel di Punggungan Ali al-Taher.
Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, menolak pernyataan Israel. Ia menyebut eskalasi tersebut "sangat berbahaya" dan menilai hal itu merusak upaya mengonsolidasikan stabilitas di Lebanon selatan. "Keberadaannya tidak memberi Israel hak untuk melanggar wilayah Lebanon atau membahayakan warga sipil," ujar Salam, seraya mendesak Israel menghentikan eskalasi.