Menjaga Sekolah Alternatif Anak Jalanan di Tengah Keterbatasan

- Sabtu, 15 Agustus 2026 | 19:13 WIB
Menjaga Sekolah Alternatif Anak Jalanan di Tengah Keterbatasan

Kristina Iin Dwiyanti, atau yang akrab disapa Iin, memilih mengajar di Sekolah Alternatif Anak Jalanan (Saaja) tanpa gaji tetap. Bahkan, saat kebutuhan sekolah menjadi prioritas sementara dana tidak ada, ia kerap merogoh kocek pribadi. Namun, bagi perempuan 47 tahun itu, meninggalkan Saaja bukan pilihan. Ada anak-anak yang masih menunggunya untuk belajar.

Perjalanan Iin di Saaja bermula jauh sebelum ia menjadi kepala sekolah. Awalnya, ia datang sebagai relawan dan belajar langsung dari pendiri Saaja, almarhum Farid Faqih. Saat itu, Iin tidak memiliki latar belakang sebagai guru; pendidikan terakhirnya adalah SMK jurusan sekretaris. Namun, dari keterlibatannya sebagai relawan, ia perlahan belajar mendampingi anak-anak dan menjalankan program-program yang dibuat Farid.

“Dasarnya itu pun saya sebenarnya juga bukan seorang pengajar. Jadi saya terakhir pendidikan itu SMK jurusan sekretaris. Jadi banyak ilmu yang diberikan oleh almarhum Farid Faqih kepada saya,” kata Iin saat ditemui, Sabtu (15/8).

Saaja sendiri bermula dari tempat belajar sederhana. Pada 2002, kegiatan belajar mengajar dilakukan di bekas posko banjir yang hanya berbentuk seperti gubuk. Saat itu, jumlah murid hanya sekitar enam hingga tujuh anak, yang sehari-hari berada di jalan, seperti berjualan asongan atau ikut orang tua menjadi joki three in one.

“Waktu awal berdiri itu muridnya kalau nggak salah sekitar enam atau tujuh anak. Kalau yang awal-awal itu benar-benar anak jalanan yang memang mereka kesehariannya itu ngasong di depan Pasar Festival. Kemudian ada juga yang kalau dulu itu kan ada istilahnya joki, joki three in one dulu kan kalau masuk kawasan Sudirman sampai Thamrin kan harus tiga orang atau lebih. Nah, itu mereka kadang ikut orang tuanya jadi joki three in one,” tambah Iin.

Keterlibatan Iin pada masa awal belum sepenuhnya sebagai pengelola Saaja. Ia masih menjalankan tugas lain bersama organisasi yang didirikan Farid. Namun, keadaan berubah sejak Farid wafat. Kepergian sang pendiri membuat keberlangsungan Saaja menjadi persoalan. Sejumlah relawan memilih mundur karena kegiatan di Saaja berbasis sosial dan tidak menjanjikan penghasilan tetap.

Di tengah kondisi tersebut, Iin melihat bahwa masyarakat masih membutuhkan Saaja sebagai sarana pendidikan bagi anak-anak jalanan. Ia pun memilih meneruskan estafet yang ditinggalkan Farid.

“Ketika beliau wafat, kemudian Saaja ini ternyata masih banyak dibutuhkan masyarakat, sehingga itu yang akhirnya, saya memutuskan untuk melanjutkan estafet kepengurusan di Saaja ini,” ujar Iin.

“Kemudian juga banyak teman-teman juga yang sudah mundur karena istilahnya kita bener-bener sosial gitu ya. Itu akhirnya memutuskan saya mau tidak mau bagaimana melanjutkan keberlangsungan Saaja ini agar masyarakat masih bisa merasakan dampak dari apa yang kita berikan untuk anak-anak keluarga prasejahtera,” Iin menambahkan.

Bertahan Meski Tak Digaji

Menjaga Saaja tetap berjalan bukan perkara mudah. Saaja tidak memiliki donatur tetap. Dana yang datang tidak selalu tersedia dan harus diprioritaskan untuk kebutuhan anak-anak, mulai dari buku, vitamin, hingga sarana bermain. Di tengah keterbatasan itu, Iin memilih memastikan kegiatan belajar anak-anak tidak berhenti. Bahkan ketika hanya memiliki uang Rp 10 ribu, ia tetap berusaha datang ke Saaja untuk mengajar.

“Meskipun saya hanya punya uang sepuluh ribu, tapi bagaimana saya bisa sampai ke Saaja untuk mengajar anak-anak,” tuturnya. Baginya, persoalan transportasi tidak boleh menjadi alasan anak-anak kehilangan kegiatan belajar. “Yang penting kegiatan ini kegiatan untuk anak-anak ini tidak terputus,” ungkap Iin.

Kebutuhan sekolah yang tak bisa ditutup dari dana donasi pun terkadang harus ia tanggung sendiri. Lampu hingga kebutuhan kecil lainnya pernah dibeli menggunakan uang pribadi. “Ya banyak sih, kadang ya untuk kayak lampu, kayak apa gitu. Kalau misalkan memang tidak ada dana masuk ya mau nggak mau ya kita pakai uang pribadi,” katanya. Sementara untuk kebutuhan sehari-hari, Iin mengandalkan penghasilan suaminya.

Namun keterbatasan itu tidak membuatnya berhenti. Ketika pandemi Covid-19 membuat kegiatan belajar tidak bisa berlangsung seperti biasa, Iin dan pengelola Saaja mencari cara lain agar anak-anak tetap mendapatkan pembelajaran. “Bahkan pada saat kondisi COVID pun kita pikirkan juga bagaimana anak-anak ini tetap bisa mendapatkan pembelajaran. Jadi meskipun kita datangin ke rumah mereka untuk mengajarkan mereka, ya itu yang kita lakukan,” kata Iin.

Muridnya Jadi Pemicu Semangat

Lebih dari dua dekade berada di lingkungan Saaja membuat Iin tentu tidak selalu berjalan tanpa lelah. Ia mengakui rasa letih tetap ada. Tetapi ada hal yang membuat lelah itu terbayar: melihat anak didiknya yang awalnya tidak bisa dan harus diajarkan, kemudian perlahan mampu.

“Ketika melihat anak dari yang tadinya mereka tidak bisa, kemudian dia bisa, berhasil, dan apa yang ilmu yang kita berikan kemudian bisa diimplementasikan dalam kehidupan... itu ya menjadi salah satu ada rasa senang, ada rasa bahagia,” ujar Iin. Ia tidak mengejar materi dari pekerjaan yang dijalaninya. Justru ia merasa memiliki sesuatu yang bisa diberikan kepada masyarakat.

“Saya ingin dalam hidup saya tuh ada sesuatu yang bisa saya berikan ke masyarakat, yang berguna untuk masyarakat meskipun saya secara materi saya tidak punya,” katanya. Bagi Iin, Saaja menjadi wadah untuk mewujudkan keinginan itu. Anak-anak yang pernah belajar di sana kemudian menjadi pengingat bahwa waktu dan tenaga yang diberikan tidak benar-benar hilang.

Ada anak yang ketika masuk TK masih menangis ketika diminta menulis dan bahkan memilih bersembunyi di bawah meja. Setelah lulus dan melanjutkan ke SD, anak itu justru mampu masuk lima besar. Ada pula anak yang sejak TK terlihat menonjol dalam bidang seni. Setelah melanjutkan ke SD, ia mengikuti berbagai perlombaan dan berhasil menjadi juara. Baginya, setiap anak memiliki perjalanan dan cerita yang berbeda.

“Masing-masing anak ada kemampuannya, ada ceritanya sendiri-sendiri,” kata Iin. Baginya, keberhasilan itu tidak melulu berupa pencapaian besar. Ketika seorang anak mampu menggunakan ilmu yang diperolehnya dalam kehidupan sehari-hari, itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri.

Salah satu pengalaman yang paling membekas bahkan datang dari seorang alumni yang secara tak sengaja kembali ke Saaja setelah bertahun-tahun berlalu. Iin menceritakan, anak itu datang ketika sedang bekerja di sebuah katering yang mendapat pekerjaan di sekitar gedung Nyi Ageng Serang. Saat melihat Saaja, ia masih mengenali tempat tersebut sebagai sekolah tempatnya belajar dahulu.

“Kebetulan catering itu lagi ngisi di sini di gedungnya Nyi Ageng Serang ada pernikahan. Nah terus tiba-tiba anak itu datang ke sini dan dia tuh masih ingat ini sekolah saya dulu,” kata Iin. Pertemuan singkat itu menjadi salah satu jejak bahwa Saaja pernah memiliki tempat dalam perjalanan hidup anak tersebut.

Menjaga Apa yang Pernah Dimulai

Kini Iin masih berdiri di tempat yang sama, meneruskan perjuangan yang dulu dimulai Farid. Di tengah segala keterbatasan, ia tidak memiliki banyak hal untuk diberikan. Ia hanya memiliki waktu, tenaga, dan kemauan untuk terus datang. Dan selama masih ada anak-anak yang membutuhkan tempat untuk belajar, Iin memilih tetap berada di sana.

“Saya merasa saya masih bisa berbuat sesuatu untuk masyarakat dengan saya mengurus Saaja ini,” ucapnya. Kalimat itu mungkin sederhana. Namun bagi Iin, puluhan tahun di Saaja adalah cara untuk membuktikan bahwa sesuatu yang diberikan tanpa berharap imbalan tetap bisa meninggalkan jejak dalam hidup orang lain.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.