Penyebaran Budaya LGBTQ Masuk dalam Ancaman Nonmiliter Perpres 111/2025, Menag Sejalan dengan MUI

- Minggu, 26 Juli 2026 | 23:54 WIB
Penyebaran Budaya LGBTQ Masuk dalam Ancaman Nonmiliter Perpres 111/2025, Menag Sejalan dengan MUI

Pemerintah secara eksplisit memasukkan penyebaran budaya LGBTQ sebagai salah satu ancaman nonmiliter dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara 2025-2029. Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan hal itu menunjukkan perhatian pemerintah sejalan dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang tengah mengusulkan RUU tentang LGBTQ.

“Bahkan Bapak Presiden juga belum lama ini menetapkan, menerbitkan Perpres yang sangat terkenal, Perpres nomor 111 tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara tahun 2025-2029,” kata Nasaruddin saat menutup Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) MUI di Hotel Bidakara, Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (26/7).

Ia menjelaskan sejumlah poin yang tercantum dalam beleid tersebut. “Apa intinya? Yang menyebutkan beberapa ancaman pertahanan non militer. Antara lain penyebaran paham ateisme, itu eksplisit disebutkan. Lunturnya nasionalisme, cinta tanah air, judi daring, perang informasi serta penyebaran budaya LGBTQ, dan sebagainya. Itu eksplisit disebutkan,” ujarnya.

Menurut Nasaruddin, substansi Perpres itu menunjukkan pemerintah memiliki perhatian yang sama dengan MUI. “Concern pemerintah sama dengan concern Majelis Ulama dan umat beragama yang lain. Dengan demikian, kita sudah mengarah pada satu jalan yang sama untuk membangun sebuah negara bangsa yang sangat disegani,” kata Nasaruddin.

Ia berharap kesamaan arah ini menjadi modal membangun Indonesia yang semakin maju dan disegani di tingkat internasional. “Dan dengan demikian, insyaallah kita berharap mudah-mudahan bangsa kita nanti ini akan menjadi bangsa yang bisa menciptakan suatu contoh bahwa masih ada negara yang berpenduduk mayoritas muslim bisa kompetitif dengan negara-negara yang besar lainnya,” tuturnya.

Selain menyinggung Perpres tersebut, Nasaruddin mengajak masyarakat mendukung berbagai kebijakan pemerintah yang dinilainya berpihak kepada kelompok kurang mampu. Ia mencontohkan program hilirisasi, Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, pembangunan perkampungan nelayan, pembangunan hingga 2 juta unit rumah, Koperasi Merah Putih, redistribusi lahan, hingga perluasan beasiswa LPDP.

“Kalau kita bicara tentang hilirisasi, hilirisasi itu siapa yang paling banyak di hilir, adalah umat kita. Kalau kita bicara tentang sekolah rakyat yang serba gratis, siapa yang akan jadi penikmat sekolah rakyat itu,” ujarnya. Ia juga menyinggung program Sekolah Garuda yang memberikan beasiswa kepada anak-anak berprestasi dari keluarga kurang mampu.

Nasaruddin kemudian menyinggung pembangunan perkampungan nelayan, dua juta unit rumah, hingga Koperasi Merah Putih yang menyasar masyarakat desa. “Bahkan sekarang ini, pemerintah akan membangun perkampungan nelayan, bahkan sampai 2 juta unit rumah, siapa yang akan jadi penikmat terhadap kebijakan itu? Ya, kemudian juga Koperasi Merah Putih yang akan menyusul menyusul ke pedesaan-pedesaan. Siapa yang menghuni pedesaan, adalah orang-orang miskin banyak dan tentu yang akan banyak menikmati itu nanti adalah siapa kalau bukan umat kita,” katanya.

Selain itu, Nasaruddin mengatakan dana beasiswa LPDP terus bertambah sehingga semakin banyak masyarakat yang dapat memperoleh manfaat. “Kemudian juga LPDP, pemberi beasiswa, dananya sekarang semakin membesar. Dan siapa yang akan menikmati beasiswa yang sebanyak itu adalah mereka-mereka yang tidak mampu. Dengan demikian, saya mengimbau kepada kita semuanya mari kita memberikan dukungan penuh terhadap kebijakan-kebijakan seperti ini,” katanya.

Nasaruddin pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran MUI, dari pusat hingga daerah. Ia menilai sinergi antara Kementerian Agama dan MUI selama ini telah berjalan erat, bahkan banyak pejabat Kementerian Agama yang juga menjadi pengurus MUI. “Terakhir, Bapak Ibu sekalian, saya ingin menyampaikan terima kasih yang sesungguhnya dan setinggi-tingginya kepada segenap para pengurus Majelis Ulama dari berbagai tingkatan, mulai dari tingkat pusat sampai di tingkat daerah. Karena semakin ke bawah, semakin ke daerah semakin nyata kerja sama antara pemerintah dengan Majelis Ulama,” ujar Nasaruddin.

“Dari KUA ke KUA itu simetris. Bahkan terjadi rangkap jabatan di mana-mana. KUA juga merangkap sebagai pengurus Majelis Ulama. Kan Depag Agama juga banyak merangkap jadi pengurus Majelis Ulama, Kakanwil Agama juga. Dan memang itu sinergi sangat diperlukan dalam era seperti sekarang ini,” pungkasnya.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags