Bank Indonesia (BI) terus mengoptimalkan berbagai instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa intervensi akan diperkuat baik di pasar non-deliverable forward (NDF) luar negeri maupun transaksi spot dan DNDF di dalam negeri.
Langkah ini diambil setelah nilai tukar rupiah sempat tertekan akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah dan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Funds Rate (FFR). Meski demikian, pada 21 Juli 2026 rupiah menguat ke Rp17.885 per dolar AS, relatif stabil dibandingkan posisi akhir Juni 2026 sebesar Rp17.880.
"Hal ini akibat kembali meningkatnya konflik di Timur Tengah dan menguatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan FFR," kata Perry usai konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu (22/7/2026).
Selain intervensi langsung, BI juga menaikkan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik aliran masuk investasi portofolio asing. Hasilnya, kepemilikan nonresiden di SRBI meningkat dari Rp238,09 triliun pada 15 Juni 2026 menjadi Rp288,65 triliun (27,11 persen dari total posisi SRBI) pada 20 Juli 2026.
BI juga memberikan insentif berupa penurunan tingkat swap lindung nilai (hedging swap) sebesar 10 persen bagi investor asing. Langkah ini bertujuan meningkatkan daya tarik investasi dan mengkompensasi kewajiban yang selama ini ditanggung investor.
Di sisi lain, BI memperluas instrumen operasi moneter valuta asing dengan menambahkan instrumen spot dan swap dalam valuta offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap rupiah. Ekspansi ini sejalan dengan meluasnya penggunaan mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) untuk penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi.
Ke depan, BI berkomitmen terus memperluas pemberian insentif guna menarik aliran masuk modal asing dan memperkuat stabilitas rupiah. Bank sentral meyakini nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh imbal hasil yang menarik serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik.
Artikel Terkait
BI Pilih Tahan Suku Bunga Meski Rupiah Tertekan, Ini Alasannya
Airlangga Apresiasi BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 5,75 Persen
BI Gelontorkan Rp 431,9 Triliun Likuiditas ke Perbankan hingga Awal Juli
BI Tahan Suku Bunga Acuan di 5,75%, Pilih Perkuat Insentif Portofolio Asing