Hobi memelihara burung kicau tidak lagi sekadar mengisi waktu luang. Murdopo, warga Dupak Masigit, Surabaya, membuktikan bahwa kegemaran itu bisa menjadi sumber penghasilan utama. Dengan membudidayakan burung Blackthroat asal Afrika, ia meraup omzet belasan juta rupiah setiap bulan dari rumah.
Berawal dari sekadar hobi, Murdopo kini serius menekuni penangkaran burung mungil yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Meski ukurannya kecil, Blackthroat dihargai mahal di pasaran. Proses budidayanya pun tidak membutuhkan lahan luas; cukup sangkar kecil atau sistem pok-pokan.
Namun, tantangan terbesar ada pada masa penjodohan. Menurut Murdopo, pasangan burung butuh waktu sekitar satu minggu atau lebih untuk saling menerima dan berkembang biak. "Proses terberat itu saat menjodohkan. Kuncinya harus tenang. Kalau ada suara bising atau gangguan, mereka bisa gagal kawin, bahkan indukan bisa memecahkan telurnya sendiri karena stres," ujarnya, Selasa (21/7/2026).
Omzet Capai Rp18 Juta per Bulan
Tingkat kesulitan penjodohan dan sensitivitas burung inilah yang membuat harga Blackthroat tetap tinggi dan stabil. Untuk jenis Boswana usia 2 bulan, Murdopo menjual Rp750.000 hingga Rp800.000 per ekor, dengan penjualan 9–10 ekor per bulan. Sementara jenis Somerini usia 2 bulan dibanderol Rp1.500.000 per ekor, terjual 4–7 ekor per bulan.
Untuk menjangkau pembeli dari berbagai daerah, Murdopo memanfaatkan media sosial seperti Facebook sebagai etalase digital. Selain itu, burung hasil penangkaran yang sering menjuarai lomba kicau kerap langsung dibeli kolektor dan sesama penghobi dengan harga fantastis.
Artikel Terkait
Kebakaran TPA Benowo Diduga Dipicu Flare Suporter
Kebakaran Landa TPA Romokalisari Surabaya, Asap Membubung Tinggi
Wakil Ketua DPRD Surabaya Apresiasi Instruksi Wali Kota soal Hotline Aduan Masyarakat
Terapis Spa Curi Rp 1,2 Miliar dari ATM Pelanggan, Divonis 2,5 Tahun Penjara