Seniman Butet Kartaredjasa mengaku mendapat limpahan rezeki justru ketika ia tidak lagi menjadikannya target utama. Momen itu, menurut Butet, dimulai sejak ia mengalami sakit parah sekitar empat tahun lalu, bahkan sempat lumpuh total.
Dalam kondisi tidak berdaya, Butet memilih pasrah kepada Tuhan. Ia kemudian mengalami kesembuhan yang disebutnya sebagai mukjizat. "Sejak sakit itulah saya mendapat kesembuhan yang menurut saya peristiwanya sangat ajaib, dan itulah yang saya sebut sebagai mukjizat. Saya dalam tradisi Katolik itu kan ada apa yang disebut mukjizat, saya merasa mendapatkan mukjizat, sehingga saya dari lumpuh duduk saja tiba-tiba bisa berdiri," kata Butet dalam wawancara dengan Terusterang.id yang ditayangkan di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (15/07/2026).
Saat sakit, Butet mengaku sempat meminta didoakan oleh tokoh agama dari dua keyakinan berbeda: Romo Sindhunata, pemuka Katolik, dan Gus Mus, pemuka Islam. "Karena saya waktu itu minta tolong saya didoakan karena saya siap untuk mati. Saya sudah mengikhlaskan diri saya untuk pergi selama-lamanya. Jadi, saya minta doa dari Gus Mus, doa dari Romo Sindunata, saya bisa berdiri dan bisa berjalan," ujarnya.
Kesembuhan itu, kata Butet, menjadi penyemangat hidup. Ia merasa telah diberi kehidupan kedua sehingga harus bermanfaat bagi orang lain. "Sekarang saya harus membawa kemanfaatan bagi sebanyak-banyaknya orang. Saya sudah tidak mengejar karir diri, saya sudah selesai, saya sudah tidak ingin cari rezeki, rezeki biarlah datang sebagai akibat. Sebelumnya karir diri, ego masih besar dan sebagainya, duit itu penting, setelah itu bagi saya itu akibat saja," tuturnya.
Bagi Butet, rezeki adalah akibat dari bekerja, bukan tujuan. Ia justru merasakan keajaiban ketika melepas pamrih. "Itulah keajaiban, keajaiban semesta, aneh sekali, di luar dugaan saya. Justru, ketika saya tidak punya pamrih, dan itu sesuai dengan tradisi Jawa," katanya.
Butet mengingatkan ajaran leluhur seperti "melik nggendong lali" (keinginan yang membawa lupa) dan "eling lan waspodo" (ingat dan waspada). Berpegang pada dua falsafah itu, pada akhir 2024 ia tergerak melukis Jalan Salib, 14 stasi perjalanan Yesus menuju kebangkitan. "Ya sudah, berpedoman pada dua itu sampai pada akhirnya, pada akhir 2024 itu saya itu tergerak hati saya untuk melukis Jalan Salib. Ada 14 stasi perjalanan Yesus menuju dari kesengsaraannya menuju puncak kebahagiaannya membebaskan umat manusia," pungkas Butet.
Artikel Terkait
Butet Kartaredjasa Ikuti Jejak Sang Ayah Temui Paus di Vatikan
Butet Kartaredjasa Temui Paus Leo XIV di Vatikan, Persembahkan 14 Lukisan Jalan Salih