Parlemen Ukraina pada Selasa (15/07) menyetujui pengunduran diri Perdana Menteri Yulia Svyrydenko, sekaligus membubarkan kabinet pemerintahan. Keputusan ini membuka jalan bagi Presiden Volodymyr Zelenskyy untuk merombak jajaran menteri di tengah berbagai tekanan politik dan skandal yang melanda negeri.
Dua hari sebelumnya, Zelenskyy mengumumkan melalui media sosial bahwa ia telah menawarkan posisi baru kepada Svyrydenko. Sejumlah media melaporkan, perempuan itu berpeluang menjadi duta besar Ukraina untuk Amerika Serikat berikutnya.
"Saya berterima kasih kepada Yulia atas kinerjanya yang jelas, konsisten, dan efektif sebagai perdana menteri, serta atas pengabdiannya selama bertahun-tahun sebagai bagian dari Tim Ukraina," tulis Zelenskyy di Telegram. "Saya telah menawarkannya posisi baru yang penting dalam hubungan dengan salah satu mitra utama kami. Saya berharap, bersama anggota parlemen, kami akan melakukan perubahan yang diperlukan dalam pemerintahan Ukraina."
Zelenskyy juga mengunggah foto pertemuannya dengan sejumlah pejabat, termasuk kepala perusahaan energi milik negara Naftogaz, Sergii Koretskyi, Wakil Perdana Menteri Pertama sekaligus Menteri Energi Denys Shmyhal, Menteri Dalam Negeri Ihor Klymenko, Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov, dan Wali Kota Kharkiv Ihor Terekhov.
Mengapa kabinet dirombak?
Perombakan yang belum genap setahun ini memicu spekulasi. Ilmuwan politik dari Universitas Nasional Taras Shevchenko Kyiv, Ihor Reiterovych, mengatakan kepada DW bahwa reshuffle sebenarnya direncanakan pada musim gugur atau musim semi mendatang. Namun, sejumlah peristiwa mempercepat langkah tersebut.
Salah satu faktornya adalah situasi Duta Besar Ukraina untuk Amerika Serikat saat ini, Olga Stefanishyna, yang tengah diselidiki otoritas antikorupsi terkait aktivitasnya sebelum ditugaskan di Washington. Di tengah penyelidikan, muncul kabar bahwa Stefanishyna mempertimbangkan untuk mundur. Menurut Reiterovych, ada kemungkinan Amerika Serikat memberi sinyal bahwa skandal yang melibatkan duta besar adalah persoalan serius, sehingga Zelenskyy harus bertindak cepat. Ia menilai Svyrydenko merupakan kandidat tepat karena pernah bekerja sama dengan AS dalam perjanjian bahan baku dan memiliki hubungan baik di sana.
Reiterovych juga menyebut serangkaian skandal di tubuh angkatan bersenjata berpotensi merusak reputasi Zelenskyy sebagai panglima tertinggi. Laporan investigasi mengungkap dugaan penyiksaan, perlakuan kejam terhadap rekrutan, serta upaya menutupi kematian di luar operasi tempur. Otoritas juga menyelidiki dugaan penyimpangan dalam proses wajib militer dan mobilisasi, terutama setelah banyak pria yang dimobilisasi diketahui tidak memenuhi syarat medis.
Menurut Reiterovych, pergantian pejabat dapat mengalihkan perhatian publik dari persoalan militer. Ia menambahkan, masalah komunikasi antara Zelenskyy dengan sejumlah anggota kabinet, termasuk Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov, menjadi salah satu katalis perombakan. Pembubaran ini memungkinkan Zelenskyy mengganti pejabat yang sebelumnya sulit dicopot karena alasan citra politik.
Upaya memperkuat kendali
Vadym Denysenko dari lembaga analisis DSNews mengatakan, Svyrydenko berasal dari lingkaran dekat Andriy Yermak, mantan kepala kantor kepresidenan. Selama menjabat, ia dikenal menuntut loyalitas tinggi. Setelah Yermak tidak lagi menjabat, peran Svyrydenko sebagai pelaksana kebijakan dinilai kurang relevan, meski ia tetap setia kepada Zelenskyy.
Ilmuwan politik Oleksiy Haran mengatakan kepada DW, perombakan kabinet berkaitan dengan mundurnya Yermak. Menurutnya, kantor kepresidenan ingin memperkuat kendali terhadap cabang eksekutif. Haran menilai Zelenskyy kembali menunjukkan bahwa dirinya memegang kendali. Namun, menurut konstitusi, pembentukan pemerintahan merupakan kewenangan parlemen. Zelenskyy ingin memperlihatkan bahwa seluruh proses tetap di bawah kendalinya.
Haran juga menilai alasan lain di balik reshuffle adalah kebutuhan menangani persoalan energi Ukraina. Karena itu, Koretskyi dan Shmyhal, yang sama-sama berlatar belakang energi, masuk dalam daftar kandidat perdana menteri. Sejumlah pengamat bahkan menyebut Koretskyi sebagai salah satu kandidat terkuat.
Loyalitas menjadi pertimbangan utama
Volodymyr Fesenko dari Penta Center for Applied Political Research mengatakan Zelenskyy kerap menggabungkan keputusan personal ke dalam perubahan pemerintahan. Menurutnya, selain perubahan di kabinet, keputusan terkait lembaga penegak hukum juga diperkirakan akan diumumkan.
Sementara itu, Denysenko menilai reshuffle kali ini merupakan bagian dari perombakan menyeluruh terhadap tim kepemimpinan Zelenskyy.
Reiterovych mengatakan faktor utama yang dipertimbangkan Zelenskyy dalam memilih perdana menteri baru adalah loyalitas. Meski Ukraina menganut sistem parlementer, para pengamat yang diwawancarai DW menilai parlemen kemungkinan besar akan menyetujui kandidat pilihan presiden. Namun, seluruh calon menteri tetap harus mendapat persetujuan parlemen. Jika menolak usulan presiden, parlemen dapat menunjukkan independensinya.
Artikel Terkait
Italia U-19 Tersingkir dari Piala Eropa Usai Dikalahkan Ukraina
Italia U-19 Tersingkir dari Euro Usai Dikalahkan Ukraina
Italia U-19 Tersingkir dari Euro, Kroasia Lolos ke Semifinal
Italia U-19 Tersingkir dari Kejuaraan Eropa Usai Dikalahkan Ukraina