Semifinal Piala Dunia dan Pelajaran dari Secangkir Kopi Susu

- Kamis, 16 Juli 2026 | 06:00 WIB
Semifinal Piala Dunia dan Pelajaran dari Secangkir Kopi Susu

Empat kesebelasan tersisa di Piala Dunia: Prancis, Spanyol, Inggris, dan Argentina. Jutaan orang kembali bersiap menukar jam tidur dengan ketegangan. Nama-nama besar berkumpul di empat besar, seolah sepak bola sedang menyiapkan meja terakhir bagi para juara untuk membuktikan siapa yang paling pantas menuju final.

Di ruang tamu, orang-orang duduk dengan cara yang hampir sama: mata menatap layar, tangan memegang cangkir, mulut sibuk memberi instruksi kepada pemain yang jaraknya ribuan kilometer. “Oper bolanya!” teriak seseorang, seakan gelandang di lapangan dapat mendengar suara dari balik televisi. Ketika wasit meniup peluit, semua mendadak menjadi ahli peraturan. Ketika VAR bekerja, semua berubah menjadi hakim konstitusi sepak bola.

Saya memilih menikmati pertandingan dengan secangkir kopi susu. Kopinya memberi pahit, gulanya menyelipkan manis, dan susunya menawarkan kelembutan. Tiga rasa itu bercampur di dalam satu cangkir, seperti hidup yang jarang menyediakan kebenaran dalam satu warna. Kadang yang pahit justru menyelamatkan, yang manis dapat menyesatkan dan yang putih belum tentu selalu suci.

Lalu layar berganti. Di negeri sendiri, sebuah “pertandingan” lain sedang berlangsung. Bukan di stadion, melainkan di ruang penyidikan, gedung pemeriksaan, rumah yang digeledah, konferensi pers dan linimasa yang tidak pernah tidur. Dua institusi penegak hukum terlihat sama-sama berlari cepat.

Yang satu membuka perkara, menggeledah banyak tempat, menyita tumpukan barang bukti dan mengumumkan hasil temuannya. Yang lain juga bergerak, menetapkan tersangka dalam perkara pertambangan, meneruskan penyidikan serta menyatakan pemberantasan korupsi tidak boleh berhenti. Belakangan, sejumlah perkara bahkan dilimpahkan dari satu pihak kepada pihak lain dengan istilah yang terdengar menyejukkan: sinergitas.

Publik pun menonton. Ada yang bertepuk tangan kepada kubu sebelah kiri. Ada yang membela kubu sebelah kanan. Ada yang mulai menghitung skor, siapa paling banyak menangkap, siapa paling besar menyita, siapa paling berani menggeledah dan siapa paling sering muncul di layer televisi. Penegakan hukum akhirnya tampak seperti liga antarkesebelasan. Bedanya, pemain sepak bola mengejar gol, sedangkan aparat seharusnya mengejar kebenaran.

Tentu, kompetisi tidak selalu buruk. Dua penyerang dalam satu tim dapat saling berlomba mencetak gol dan membuat kesebelasan semakin tajam. Dua lembaga juga boleh berlomba menunjukkan prestasi. Namun, pertanyaannya sederhana: apakah mereka bermain untuk lambang di dada masing-masing, atau untuk bendera yang berkibar di atas keduanya?

Di sinilah secangkir kopi susu mulai terasa seperti pelajaran kecil tentang negara. Kopi adalah kenyataan yang pahit. Ia mengingatkan bahwa korupsi bukan sekadar angka dalam konferensi pers. Di belakangnya ada listrik yang padam, tabungan yang terancam, industri yang terganggu, pelayanan yang memburuk dan rakyat yang membayar tagihan dari kesalahan orang-orang yang mungkin tidak pernah mereka kenal. Pahitnya harus diminum apa adanya. Jangan dikurangi dengan istilah rumit, jangan ditutupi busa pencitraan dan jangan disebut “dinamika” bila sesungguhnya ia adalah pengkhianatan terhadap amanah.

Gula adalah narasi. Ia membuat kenyataan lebih mudah ditelan. Konferensi pers perlu, penjelasan kepada publik penting dan transparansi memang harus dirawat. Tetapi gula yang berlebihan dapat menutupi mutu biji kopi. Penegakan hukum yang terlalu sibuk mencari tepuk tangan berisiko berubah menjadi pertunjukan. Barang bukti menjadi dekorasi panggung, rompi tahanan menjadi kostum dan proses hukum berjalan mengikuti jadwal kamera.

Padahal, orang yang diperiksa belum tentu bersalah, orang yang disangka belum tentu terbukti dan orang yang ramai dihukum oleh media sosial belum tentu dihukum oleh pengadilan. Negara hukum tidak boleh bekerja seperti kolom komentar. Ia membutuhkan bukti, prosedur, hak jawab, pengujian dan putusan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Susu adalah harapan tentang kemurnian. Warnanya putih, rasanya lembut, tetapi ia juga mengajarkan sesuatu: putih adalah cita-cita, bukan sertifikat kesucian. Institusi tidak otomatis bersih hanya karena namanya mulia, seragamnya gagah ataupun semboyannya indah. Kemurnian harus dibuktikan melalui keberanian membersihkan bagian dalam dirinya sendiri.

Max Weber menyebut otoritas modern sebagai otoritas legal-rasional. Kekuasaan ditaati bukan karena siapa yang memegangnya, melainkan karena aturan yang menjadi dasarnya. Dalam bahasa yang lebih sederhana, kewenangan tidak menjadi benar hanya karena digunakan oleh lembaga yang kuat. Ia menjadi sah ketika dijalankan secara terukur, terbuka, konsisten, dan dapat diuji.

Karena itu, adu prestasi antara para penegak hukum hanya akan berguna bila yang dipertandingkan adalah integritas. Berlombalah mengembalikan kerugian negara. Berlombalah menyelesaikan perkara tanpa pesanan. Berlombalah melindungi saksi, menghormati hak tersangka, membuka informasi secara proporsional dan membersihkan anggota sendiri yang menyimpang. Bila perlombaan semacam itu terjadi, rakyat tidak perlu memilih pendukung. Siapa pun yang menang, keadilan akan memperoleh angka.

Namun, bila persaingan berubah menjadi saling mengunci, saling membuka aib atau saling menggunakan perkara sebagai kartu tawar, yang kalah bukan salah satu lembaga. Yang kalah adalah kepercayaan publik. Dan kepercayaan, seperti aroma kopi yang sudah menguap, sulit dikembalikan hanya dengan menambah gula.

Sepak bola memiliki aturan yang jelas. Ada garis lapangan, waktu pertandingan, wasit, VAR, kartu dan papan skor. Penegakan hukum jauh lebih rumit karena yang dipertaruhkan bukan piala, melainkan nama baik, kebebasan, uang rakyat, bahkan masa depan keluarga seseorang. Itulah sebabnya hukum tidak boleh dipimpin oleh sorak penonton. Ia harus tenang ketika publik gaduh, jernih ketika media keruh dan adil ketika kepentingan datang membawa seragam.

Dua institusi yang sedang hangat dalam berita hari ini sesungguhnya bukan dua kesebelasan. Mereka berada dalam satu tim bernama Republik. Mereka boleh memiliki cara bermain yang berbeda, tetapi gawang yang harus dijaga sama: keselamatan uang rakyat, kepastian hukum, dan kepercayaan masyarakat. Jangan sampai keduanya terlalu sibuk berebut menjadi pencetak gol, sementara pertahanan negara dibiarkan terbuka.

Dalam bahasa iman, kekuasaan adalah amanah. Ia tidak menjadi ringan hanya karena dibungkus jabatan, dan tidak menjadi halal hanya karena dilakukan atas nama lembaga. Pada akhirnya, setiap kewenangan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan hukum, di hadapan rakyat dan di hadapan Tuhan.

Pertandingan semifinal akan berakhir. Ada yang masuk final, ada yang pulang. Tetapi penegakan hukum tidak mengenal peluit panjang. Ia harus terus berjalan setelah kamera dimatikan dan penonton meninggalkan layar.

Saya meneguk kopi susu yang mulai dingin. Pahitnya masih ada, manisnya mulai berkurang, dan susunya telah menyatu. Barangkali begitulah seharusnya hukum bekerja: kebenaran tidak disembunyikan, keadilan tidak dipermanis dan kekuasaan dilembutkan oleh nurani.

Kopi boleh hitam, gula boleh manis, susu boleh putih. Namun, hukum harus tetap bening, agar rakyat dapat melihat dengan jelas siapa yang bekerja untuk keadilan dan siapa yang hanya sedang mengejar kemenangan.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags