Wall Street Ditutup Menguat Ditopang Data Inflasi Produsen AS yang Positif

- Kamis, 16 Juli 2026 | 06:40 WIB
Wall Street Ditutup Menguat Ditopang Data Inflasi Produsen AS yang Positif

Wall Street ditutup lebih tinggi pada perdagangan Rabu (15/7/2025), didorong oleh data inflasi produsen Amerika Serikat yang menunjukkan moderasi. Sentimen positif ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran yang membayangi pasar global.

Data ekonomi yang dirilis menunjukkan perlambatan inflasi produsen utama, setelah sebelumnya angka serupa untuk harga konsumen juga melandai. Para pelaku pasar merespons dengan mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve lebih lanjut.

Indeks S&P 500 naik 0,4 persen ke 7.571,01 poin, sementara Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi bertambah 0,6 persen menjadi 26.269,23 poin. Dow Jones Industrial Average yang berisi saham-saham unggulan juga menguat 0,3 persen ke 52.658,52 poin.

Pelaku pasar juga mencermati awal musim pendapatan perusahaan yang diyakini menjadi ujian kunci. Profitabilitas perusahaan diharapkan dapat mendorong Wall Street kembali ke level rekor meskipun risiko geopolitik masih mengemuka.

Tekanan pada Sektor Teknologi

Meski data inflasi positif, sektor teknologi justru menghadapi tekanan. Aksi ambil untung telah menghantam perdagangan kecerdasan buatan (AI) sejak bulan lalu. Kekhawatiran muncul atas besarnya modal yang mengalir ke teknologi tersebut serta lonjakan harga produk pendukung AI, seperti chip memori.

Kinerja kuartalan ASML yang luar biasa tidak cukup meredakan kekhawatiran terkait AI. Saham raksasa litografi Belanda itu sempat melonjak 7,9 persen di Euronext, namun akhirnya ditutup sedikit lebih rendah.

Di sisi lain, saham IBM anjlok 25 persen dalam sehari setelah perusahaan teknologi lama itu mengumumkan pendapatan kuartalan awal yang lebih rendah dari konsensus. Penyebabnya adalah pengalihan prioritas anggaran TI perusahaan secara agresif ke infrastruktur perangkat keras. IBM mencatat bahwa pada minggu-minggu terakhir Juni, klien tiba-tiba mengalihkan belanja modal dari siklus perangkat lunak dan mainframe tradisional ke server, penyimpanan, dan memori.

"Sektor teknologi tampaknya tidak bisa menang. Lonjakan harga saham tidak memicu kenaikan, seperti pada ASML dan Samsung, sementara lonjakan harga justru terpukul seperti IBM. Lihat kembali Micron pada bulan Juni, sahamnya turun sekitar 25 persen sejak mencapai titik tertinggi setelah kinerja keuangan yang luar biasa," kata Adam Crisafulli dari Vital Knowledge.

Meski demikian, optimisme masih tersisa. "Kami yakin masih ada potensi kenaikan lebih lanjut di pasar saham, dan memperkirakan S&P 500 akan mencapai 7.900 pada akhir tahun," ujar Charlie Anderson, Wakil Presiden Senior di UBS Wealth Management.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags