Indeks utama saham Amerika Serikat, Wall Street, ditutup menguat pada perdagangan Rabu (15/7). Sentimen positif datang dari data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan serta awal musim laporan keuangan kuartal II yang menunjukkan kinerja perbankan lebih baik dari ekspektasi.
Ketiga indeks utama berhasil mengakhiri perdagangan di zona hijau meski saham-saham sektor semikonduktor melemah. Penguatan pasar terutama ditopang sektor ritel yang berorientasi pada konsumen serta sektor perjalanan dan rekreasi.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 150,91 poin atau 0,29 persen menjadi 52.659,18. Indeks S&P 500 bertambah 28,83 poin atau 0,38 persen ke level 7.572,42. Sementara itu, Nasdaq Composite menguat 162,22 poin atau 0,62 persen menjadi 26.269,23.
Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, sektor layanan komunikasi mencatat kenaikan terbesar. Sebaliknya, sektor utilitas menjadi yang berkinerja paling lemah.
Saham PayPal menjadi salah satu emiten dengan kenaikan terbesar setelah melonjak 17,2 persen. Lonjakan itu terjadi setelah sejumlah sumber Reuters menyebut Stripe bersama perusahaan ekuitas swasta Advent International mengajukan penawaran untuk mengakuisisi PayPal seharga 60,50 dolar AS per saham. Nilai tersebut sekitar 28 persen lebih tinggi dibandingkan harga penutupan saham PayPal sehari sebelumnya.
Musim laporan keuangan kuartal II juga memberi dorongan bagi pasar. Setelah hasil positif dari sejumlah bank pada hari sebelumnya, BlackRock dan Morgan Stanley kembali mencatatkan laba kuartalan yang melampaui perkiraan analis. Saham BlackRock naik 6,6 persen, sementara Morgan Stanley menguat 0,4 persen.
“Semuanya terlihat sangat baik dari laporan keuangan perbankan. Saya sama sekali tidak akan terkejut jika kembali melihat kuartal yang luar biasa,” kata Kepala Manajemen Portofolio Horizon Investments, Mike Dickson.
Optimisme terhadap musim laporan keuangan juga tercermin dari proyeksi analis. Berdasarkan data terbaru LSEG, laba emiten yang tergabung dalam indeks S&P 500 diperkirakan tumbuh 23,7 persen secara tahunan pada kuartal II.
Dari sisi makroekonomi, laporan Indeks Harga Produsen (PPI) Departemen Tenaga Kerja AS kembali menunjukkan inflasi yang lebih rendah dari perkiraan selama dua hari berturut-turut. Data tersebut melengkapi laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) yang juga menunjukkan perlambatan inflasi.
Kedua data itu mengindikasikan tekanan inflasi mulai bergerak ke arah yang lebih baik pada bulan lalu, meski masih berada di level tinggi akibat perang AS dan Israel melawan Iran. Kondisi tersebut mengurangi tekanan terhadap Federal Reserve untuk kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
“Kekhawatiran saya menjelang pekan ini adalah kami akan mendapatkan data CPI yang tinggi, dengan inflasi di atas 3,8 persen, tetapi itu tidak terjadi. Justru kami memperoleh angka yang lebih rendah, yakni 3,5 persen. Hal itu memberi Federal Reserve ruang untuk mempertahankan suku bunga tetap atau bahkan memangkasnya pada akhir tahun ini, dan itu merupakan kabar baik bagi pasar,” ujar Chief Investment Officer Founders 100 ETF, Lauren Cassidy.
Berdasarkan FedWatch Tool milik CME, peluang Federal Reserve menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan kebijakan bulan ini kini hanya sebesar 10,2 persen. Angka tersebut turun tajam dibandingkan proyeksi sebesar 31 persen sepekan lalu.
Meski demikian, pelaku pasar tetap mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Data inflasi yang dirilis pekan ini masih mencerminkan kondisi bulan lalu ketika pasar optimistis negosiasi damai di kawasan tersebut akan tercapai.
Optimisme itu kini memudar setelah AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan udara dalam perebutan kendali atas Selat Hormuz. Eskalasi konflik tersebut dikhawatirkan kembali memicu kenaikan harga energi dan tekanan inflasi.
Gubernur Federal Reserve Lisa Cook mengatakan dirinya “siap mengambil tindakan” apabila inflasi tidak segera menunjukkan perlambatan.
Di NYSE, jumlah saham yang naik melampaui yang turun dengan rasio 1,5 berbanding 1. Sebanyak 269 saham mencatat level tertinggi baru, sedangkan 124 saham menyentuh level terendah baru.
Sementara di Nasdaq, sebanyak 2.647 saham menguat dan 2.107 saham melemah. Volume perdagangan di seluruh bursa saham AS mencapai 16,27 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata 20 hari perdagangan terakhir yang mencapai 21,40 miliar saham.
Artikel Terkait
Wall Street Ditutup Menguat Ditopang Data Inflasi Produsen AS yang Positif
Wall Street Dibuka Menguat, Data Inflasi dan Kinerja Bank Besar Jadi Penopang
Rupiah Menguat ke Rp18.068 per Dolar AS di Tengah Eskalasi Konflik Iran-AS
Inflasi AS Melandai, Bursa Asia Menguat