Bayi Tiga Bulan Tewas setelah Tentara Israel Halang Ambulans di Pos Pemeriksaan Tepi Barat

- Jumat, 10 Juli 2026 | 07:00 WIB
Bayi Tiga Bulan Tewas setelah Tentara Israel Halang Ambulans di Pos Pemeriksaan Tepi Barat

Akta kelahiran dan akta kematian seorang bayi laki-laki berusia tiga bulan dikeluarkan pada hari yang sama, setelah pasukan Israel menghalangi keluarganya untuk mencapai ambulans di pos pemeriksaan Tepi Barat. Ahmad Zaid, warga Kamp Pengungsi Deir Ammar, meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit setelah tentara Israel menolak membuka gerbang militer yang menghubungkan desanya dengan Ramallah.

Minggu pagi itu dimulai dengan momen-momen biasa. Ahmad minum susu lebih banyak dari biasanya, sementara ayahnya, Maarouf Zaid, pergi ke Ramallah untuk mengurus akta kelahirannya. Keluarga sedang mempersiapkan perjalanan pertama Ahmad ke Jericho keesokan harinya. Namun, pada sore hari, suasana berubah menjadi perlombaan melawan waktu.

Ibunya, Yasmine Zaid, menemukan Ahmad tidak sadarkan diri. Ia segera membawanya ke pusat medis terdekat, tempat staf berusaha menyadarkannya sambil memanggil ambulans untuk memindahkannya ke rumah sakit di Ramallah. Namun, gerbang Israel yang terkunci di jalan antara Deir Ammar dan Ramallah menghalangi rute ambulans.

Rencananya, Ahmad akan diantar ke gerbang, lalu petugas medis akan membawanya menyeberang dengan berjalan kaki menggunakan masker oksigen ke ambulans yang menunggu di dekatnya. Namun, ketika mereka tiba, tentara Israel sudah berjaga. Maarouf, yang baru kembali dari Ramallah, memohon agar bayinya yang sakit kritis diizinkan lewat. Tentara menolak membuka gerbang dan melarang keluarga menyeberang.

“Mereka berteriak kepada kami untuk mundur,” kata saudara ipar Maarouf, Fatima al-Abd Khalil. “Mereka marah dan mengatakan akan menembak kami. Ketika mereka melihat anak itu, mereka berhenti sejenak. Kemudian mereka menjadi lebih ganas.”

Dalam keputusasaan, Maarouf membawa Ahmad ke arah tentara dengan masker oksigen yang terlepas. “Anakku akan mati. Tembak aku, biarkan saja anakku lewat,” kata Khalil menirukan Maarouf. Tentara merespons dengan gas air mata dan granat kejut, memaksa keluarga mundur ke mobil. Mereka terpaksa mengambil jalan tanah panjang dan berkelok untuk mencapai ambulans.

Saat Ahmad berada di ambulans pukul 15.20, sudah terlambat. Ia dinyatakan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Pada hari yang sama, Maarouf yang baru saja menerima akta kelahiran Ahmad, pergi lagi ke Ramallah untuk mengambil akta kematian putranya.

Penutupan Gerbang dan Dampaknya

Warga mengatakan gerbang militer Deir Ammar ditutup tanpa batas waktu setelah perang Israel dengan Iran dimulai pada akhir Februari, mengisolasi sekitar 18.000 orang di tiga desa dari layanan Ramallah. Bagi keluarga di sini, penutupan tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Setidaknya bukalah gerbang ketika ada yang sakit, ketika ada yang akan meninggal,” kata Yasmine. Khalil mengatakan kematian Ahmad adalah bagian dari realitas yang lebih luas yang dihadapi warga Palestina di bawah pendudukan Israel. “Ini bukan yang pertama, dan ini bukan yang terakhir kalinya hal seperti ini terjadi. Setiap hari, ada pasien yang perlu pergi ke rumah sakit. Inilah hidup kami.”

Organisasi Kesehatan Dunia mencatat 233 insiden yang memengaruhi fasilitas kesehatan, pekerja, dan ambulans di seluruh Tepi Barat pada tahun 2025, sebagian besar berupa penghalangan dan penolakan akses. Di seluruh Tepi Barat, PBB mencatat setidaknya 925 hambatan pergerakan Israel yang memengaruhi 3,4 juta warga Palestina, termasuk pos pemeriksaan permanen, penghalang sementara, gerbang, dan hambatan fisik seperti gundukan tanah.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags