Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menuduh Amerika Serikat telah melanggar berat nota kesepahaman yang ditandatangani kedua negara setelah militer AS melancarkan serangan terhadap Teheran. Tuduhan itu disampaikan Ghalibaf melalui media sosial X, Rabu (8/7/2026), menyusul serangan AS terhadap lebih dari 80 target Iran di Selat Hormuz sehari sebelumnya.
"Era bullying dan pemerasan telah berakhir. Kami tidak akan tunduk," tegas Ghalibaf dalam pernyataannya seperti dikutip Reuters.
Selain serangan militer, Ghalibaf juga menyoroti pemberlakuan kembali sanksi minyak Iran oleh AS, ancaman serangan lebih lanjut, serta pelanggaran terhadap penyesuaian yang dilakukan Teheran di Selat Hormuz. Ia pun menyinggung serangan Israel yang terus berlanjut di Lebanon sebagai bagian dari pelanggaran yang dimaksud.
Serangan AS itu merupakan respons langsung atas aksi Iran yang menyerang tiga kapal komersial di Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir, termasuk kapal milik Qatar dan Arab Saudi. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut serangan Teheran itu "tidak dapat dibenarkan, berbahaya, dan merupakan pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata".
Pada Selasa (7/7) waktu setempat, militer AS membombardir lebih dari 80 target terkait Iran. Target tersebut meliputi sistem pertahanan udara, jaringan komando dan kendali, lokasi radar pesisir, kemampuan rudal anti-kapal, serta lebih dari 60 kapal kecil milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di dalam dan sekitar Selat Hormuz. AS juga mencabut izin penjualan minyak Iran.
Artikel Terkait
NATO Dukung Serangan AS ke Iran, Rutte Sebut Respons Washington Sudah Tepat
AS Klaim Hantam 80 Target Iran di Selat Hormuz
IRGC Klaim Serang Puluhan Fasilitas Militer AS di Bahrain dan Kuwait
Kapal Tanker Pertamina Pride Berhasil Lolos dari Blokade Selat Hormuz