Perusahaan teknologi pemrosesan material baterai asal Australia, Pure Battery Technologies (PBT), berencana membangun fasilitas precursor Cathode Active Material (pCAM) di Indonesia. Langkah ini dipandang sebagai pelengkap mata rantai ekosistem baterai nasional yang selama ini masih tertinggal.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, mengatakan Indonesia sudah memiliki fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) dan dalam waktu dekat akan memiliki manufaktur sel baterai. "Mata rantai yang tersisa adalah pCAM dan katoda. Di sinilah investasi seperti Pure Battery Technologies menjadi krusial untuk melengkapi ekosistem baterai yang terintegrasi penuh," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (2/7/2026).
Todotua menyambut baik rencana PBT masuk dalam ekosistem hilirisasi nasional. Apalagi, kedua negara memiliki kerangka Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) yang diharapkan memperkuat hubungan investasi.
Potensi Investasi Hilirisasi
Hilirisasi merupakan inti transformasi ekonomi Indonesia. Pemerintah telah mengidentifikasi 28 komoditas strategis dengan potensi investasi mencapai USD618 miliar hingga tahun 2040. "Potensi tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan nilai ekspor sebesar USD857 miliar dan menciptakan lebih dari tiga juta lapangan kerja langsung," kata Todotua.
Dalam forum dengan pemerintah dan pebisnis Australia, Todotua menekankan bahwa kedua negara memiliki ekonomi yang saling melengkapi, didukung IA-CEPA. Indonesia juga terus mereformasi iklim investasi melalui penyederhanaan perizinan, insentif fiskal dan nonfiskal, serta pengembangan kawasan industri dan ekonomi khusus. "Kami mengundang investor Australia untuk menjadi bagian dari babak baru pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui investasi yang berorientasi pada hilirisasi, infrastruktur, ketahanan pangan, transisi energi, dan ekonomi hijau," imbuhnya.
Selain itu, Todotua menyoroti pentingnya memperkuat konektivitas logistik kawasan melalui optimalisasi Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II. Jalur strategis ini menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia melalui Selat Lombok dan Selat Makassar. "Pada 2024, koridor ini dilalui perdagangan bijih besi senilai A$138 miliar, batu bara A$91 miliar, dan LNG A$69 miliar. Potensi tersebut menjadi peluang besar bagi Indonesia dan Australia untuk memperkuat rantai pasok, logistik, serta investasi di kawasan," tuturnya.
Artikel Terkait
Amman Mineral Masuki Siklus Pertumbuhan Baru, Pendapatan Diproyeksikan Melonjak 117 Persen
Perusahaan Australia Siap Investasi Rp6,2 Triliun untuk Lengkapi Rantai Pasok Baterai RI
Indonesia Turun di 32 Cabang Asian Games 2026, Target Empat Emas
COO Danantara Minta KPK Awasi Proyek Hilirisasi Cegah Korupsi