Di tengah gemuruh modernisasi Surabaya, sebuah rumah tua di Jalan Diponegoro 68 berdiri sebagai saksi bisu perjalanan bangsa. Bukan sekadar bangunan kolonial yang bertahan, rumah ini menjadi ruang hidup tempat sejarah dirawat dan diwariskan. Di sinilah jejak Ki Soenarjo pejuang Pertempuran 10 November 1945 sekaligus budayawan terus mengalir, bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai energi moral bagi generasi kini.
Memasuki rumah itu, pengunjung seolah menembus lorong waktu. Dinding tua, perabot klasik, arsip keluarga, pusaka, hingga karya seni rupa Indonesia menghadirkan pengalaman yang tak bisa digantikan buku atau layar digital. Di setiap sudut, sejarah bukan hanya dibaca, melainkan dialami.
Pusat dari seluruh narasi adalah sebuah prasasti silsilah keluarga. Bagi budayawan, prasasti adalah dokumen peradaban. Ia memperlihatkan kesinambungan nilai dari Ki Kerta Leksono I, Ki Kerta Leksono II yang dalam tradisi keluarga dikaitkan dengan Perang Diponegoro, Raden Mangku Kerto Setro, Raden Mangku Oemarsidik yang dikenal sebagai pejuang kemerdekaan, hingga bermuara pada Ki Soenarjo (1921–1987). Rangkaian nama itu bukan sekadar silsilah biologis, melainkan mata rantai pengabdian. Setiap generasi meninggalkan jejak yang diteruskan: keberanian, kecintaan pada ilmu, penghormatan pada budaya, dan tanggung jawab pada bangsa.
Ki Soenarjo paham bahwa kemerdekaan tak berhenti saat perang usai. Setelah revolusi, medan perjuangannya bergeser. Ia menjadi pengumpul artefak, penjaga manuskrip, perawat pusaka, dan pelestari seni. Apa yang dilakukannya adalah menyelamatkan memori bangsa agar tak tercerabut dari akar.
Warisan itu terasa nyata lewat koleksi di rumah tersebut. Berbagai artefak sejarah, dokumen keluarga, hingga karya para maestro seni rupa Indonesia tersimpan di sana. Lukisan Affandi, Kartika Affandi, Hendra Gunawan, Jeihan Sukmantoro, Koempoel Soejatno, Trubus, dan lainnya menunjukkan bahwa Ki Soenarjo memandang seni sebagai bahasa kebudayaan yang merekam zaman. Setiap lukisan punya narasi: Affandi dengan ledakan ekspresi, Hendra Gunawan merekam denyut rakyat, Jeihan mengajak kontemplasi, Trubus menghadirkan panorama puitis, dan Kartika melanjutkan semangat ekspresionisme. Sejarah dan seni saling menghidupkan.
Rumah Heritage Diponegoro 68 menjelma sebagai museum hidup. Bukan museum dengan sekat kaca, melainkan ruang dialog tempat sejarah bisa disentuh, dipahami, dan diceritakan kembali. Benda-benda lama memperoleh makna baru karena selalu dipertemukan dengan generasi yang datang belajar.
Kunjungan bersama komunitas Historical Jatim dan Brawijaya V menunjukkan bahwa pelestarian sejarah kini menjadi gerakan sosial. Sejarah tak lagi milik akademisi atau negara, tetapi juga masyarakat yang sukarela menjaga ingatan kolektif. Komunitas menjadi jembatan antara arsip dan generasi muda, antara benda dan makna.
Di era digital, rumah seperti ini justru semakin penting. Informasi bisa disimpan dalam jutaan gigabita, tetapi pengalaman sejarah tak bisa sepenuhnya didigitalkan. Aroma kayu tua, tekstur prasasti, sapuan kuas asli di kanvas, hingga percakapan dengan pewaris sejarah menghadirkan dimensi emosional yang tak tergantikan. Di rumah ini juga tersimpan gamelan lengkap yang dimainkan empat kali seminggu.
Ahli waris Ki Soenarjo, putra sulungnya Sidik Hananto, mengatakan bahwa semua peninggalan sang ayah adalah jejak panjang perjalanan yang masuk dalam sejarah kota Surabaya. "Dan saat ini rumah Diponegoro ini selain sebagai heritage juga menjadi bagian sejarah kota Surabaya," katanya.
Modernitas kerap membuat manusia lupa bahwa kemajuan membutuhkan akar. Kota bisa dibangun dengan beton dan baja, tetapi peradaban hanya bisa dibangun dengan ingatan. Tanpa memori kolektif, masyarakat kehilangan orientasi moral. Mereka mungkin mengenal teknologi terbaru, tetapi tak lagi memahami nilai-nilai yang membentuk bangsanya.
Di sinilah makna terdalam legacy Ki Soenarjo. Ia tidak mewariskan kemegahan material, tetapi kesadaran bahwa menjaga sejarah adalah bentuk cinta tanah air yang paling sunyi sekaligus paling mendasar. Mengoleksi bukan tujuan akhir. Yang lebih penting adalah menjaga agar setiap benda tetap mampu berbicara kepada generasi yang belum pernah menyaksikan masa lalu.
Warisan ini semakin relevan di tengah krisis identitas global. Globalisasi membuka batas antarbangsa, tetapi mengaburkan akar budaya lokal. Rumah Heritage Diponegoro 68 mengingatkan bahwa menjadi modern tidak berarti melupakan asal-usul. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu berdialog dengan dunia tanpa kehilangan jati diri.
Pada akhirnya, legacy Ki Soenarjo bukan sekadar sejarah seorang pejuang atau kolektor. Ia adalah kisah tentang bagaimana memori dipelihara sebagai fondasi peradaban. Rumah ini mengajarkan bahwa sejarah tidak hanya hidup di dalam buku, tetapi juga di dalam rumah yang dirawat dengan cinta, di dalam karya seni yang dijaga dengan hormat, dan di dalam keluarga yang memilih meneruskan amanah leluhur.
Bangunan mungkin akan menua. Kayu dapat lapuk, batu dapat retak, dan manusia pada akhirnya kembali kepada Sang Pencipta. Namun nilai tidak mengenal usia. Selama masih ada orang yang bersedia membuka pintu rumah ini, membaca prasasti, mengagumi karya para maestro, dan menceritakan kembali kisah Ki Soenarjo kepada generasi berikutnya, maka sejarah akan terus hidup.
Sebab sesungguhnya, legacy bukanlah apa yang kita tinggalkan ketika hidup berakhir, melainkan apa yang terus hidup ketika nama kita telah menjadi bagian dari sejarah. Rumah Heritage Diponegoro 68 Surabaya adalah bukti bahwa ingatan dapat diwariskan, kebudayaan dapat dirawat, dan cinta kepada Indonesia dapat terus menyala melalui keteladanan seorang budayawan yang memilih menjaga masa lalu demi menerangi masa depan.
Artikel Terkait
Vonis 3 Tahun 10 Bulan untuk Otak Pengusiran Nenek Elina
Jadwal Salat dan Imsakiyah Surabaya, 1 Juli 2026
Jadwal Salat dan Imsak di Surabaya Hari Ini, 30 Juni 2026
Jadwal Salat dan Buka Puasa Surabaya, 29 Juni 2026