Teater Dermaga, Panggung Seni yang Menjauhkan Remaja Belawan dari Tawuran

- Rabu, 01 Juli 2026 | 12:30 WIB
Teater Dermaga, Panggung Seni yang Menjauhkan Remaja Belawan dari Tawuran

Di tengah maraknya tawuran antargeng di Belawan, Kota Medan, sebuah komunitas seni hadir sebagai ruang alternatif bagi remaja. Teater Dermaga bukan sekadar tempat berlatih seni, melainkan wadah bagi anak-anak muda, termasuk mereka yang pernah terlibat tawuran, untuk menyalurkan kreativitas dan menemukan arah baru.

Komunitas ini pertama kali berdiri pada 1986 dan sempat vakum sebelum kembali aktif pada 2013. Sejak awal, Teater Dermaga menjadi tempat berkumpul bagi para remaja, termasuk mantan anggota tawuran antargeng. Lewat seni peran, puisi, tari, dan berbagai aktivitas kesenian lainnya, mereka berupaya mengurangi jumlah remaja yang terlibat tawuran sekaligus mengembangkan minat dan bakat.

"Sebenarnya salah satu tujuan kami mau merangkut minat bakat untuk anak-anak Belawan. Ada juga yang awalnya ikut-ikutan tawuran, terus tertarik dengan Teater Dermaga, ikut di Teater Dermaga. Alhamdulillah sekarang sudah enggak ikut kayak gitu (tawuran) lagi," kata Ardiansyah, pembina Teater Dermaga, saat dihubungi, Rabu (1/7).

Ke depan, Teater Dermaga berencana membuka program bagi anak-anak usia dini. Langkah ini diharapkan menjadi upaya pencegahan agar mereka memiliki ruang berekspresi sejak kecil dan tidak tertarik mengikuti tawuran ketika remaja. "Jadi harapannya nanti ada program untuk anak-anak kecil. Jadi bisa memutus minat bakat mereka untuk perang. Jadi ikut teater dari kecil," ujar Ardiansyah.

Saat ini, Teater Dermaga memiliki berbagai pelatihan dasar, mulai dari akting untuk pementasan drama hingga latihan membaca puisi. Namun, aktivitas mereka tidak berhenti di panggung drama. "Teater Dermaga ini bukan hanya berdrama di atas panggung aja. Kami sudah berkembang di tari-tarian. Jadi siapa pun yang kayak sudah-sudah sering ke mana-mana ikut lomba, mengisi acara-acara pesta," ucap Ardiansyah.

Kini, Teater Dermaga diikuti sebanyak 52 remaja di Belawan. Para anggotanya dikenal dengan sebutan Laskar. Berbagai pertunjukan telah mereka tampilkan, salah satunya drama berjudul 'Ibu Air Mata Sungai' yang dipentaskan di atas Sungai Deli, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan. Drama tersebut mengangkat kisah tentang kondisi alam yang rusak akibat ulah manusia.

Bagi setiap remaja yang bergabung, ada satu komitmen yang harus dijaga: meninggalkan tawuran. Menurut Ardiansyah, aturan itu menjadi prinsip utama. "Jadi, kami setiap ada siapa pun yang sudah bergabung di Teater itu, paling pantang untuk ikut tawuran kayak gitu. Kalau ketahuan sama kami, ya sudah siap-siap lagi gitu. Antusias orang tua Alhamdulillah oke saja. Masyarakat mendukung, bahkan kalau kami buat acara gitu, orang itu yang paling antusias, dari membantu dana dan lain sebagainya," jelas Ardiansyah.

Dukungan masyarakat pun terus mengalir. Bagi banyak orang tua di Belawan, Teater Dermaga menjadi harapan agar anak-anak mereka memiliki ruang berkarya, menjauhi tawuran antargeng, dan terhindar dari penyalahgunaan narkoba. Di tengah lingkungan yang masih rawan konflik, panggung teater menjadi tempat lahirnya harapan-harapan baru bagi generasi muda.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags