Prabowo: Sejarah Buktikan Bangsa Maju Jika Elitnya Mampu Bekerja Sama

- Jumat, 26 Juni 2026 | 20:45 WIB
Prabowo: Sejarah Buktikan Bangsa Maju Jika Elitnya Mampu Bekerja Sama

Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa masa depan Indonesia sebagai bangsa yang maju sangat bergantung pada kemampuan para elitenya untuk bersatu dan bekerja sama. Pernyataan ini disampaikan di hadapan ribuan akademisi, peneliti, dan tokoh nasional dalam Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 yang digelar di JCC, Senayan, Jakarta, Jumat (26/6/2026). Menurut Prabowo, pelajaran berharga dapat ditarik dari perjalanan sejarah bangsa-bangsa lain di dunia.

"Dari apa yang saya belajar dari sejarah ribuan tahun, bangsa-bangsa yang elitenya bisa kerja sama, itu bangsa yang bangkit," ujar Prabowo dalam sambutannya.

Sebaliknya, Presiden menegaskan bahwa ketidakmampuan para elite untuk bersatu justru menjadi penghambat utama bagi kemajuan sebuah negara. Ia menekankan bahwa kondisi ini bukan sekadar teori, melainkan fakta yang terulang sepanjang sejarah.

“Bangsa yang elitenya selalu tidak bisa kerja sama, bangsa itu tidak bisa mencapai potensinya, ini sejarah mengajarkan,” kata dia.

Untuk memperkuat argumentasinya, Prabowo mencontohkan sejumlah konflik yang masih berkecamuk di berbagai kawasan dunia, mulai dari Eropa hingga Timur Tengah. Ia menyebut situasi di Lebanon, Iran, negara-negara Teluk, Yaman, Afghanistan, Myanmar, serta ketegangan antara Thailand dan Kamboja sebagai bukti nyata.

“Di tengah semua ini, kuncinya antara lain adalah elit yang tidak bisa bekerja sama,” ungkapnya.

Dalam kesempatan yang dihadiri lebih dari 2.600 rektor, akademisi, dan peneliti itu, Prabowo mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama merenungkan arah kemajuan Indonesia. Ia menekankan pentingnya menjaga persatuan dan stabilitas nasional sebagai fondasi utama pembangunan.

Presiden juga menegaskan komitmennya untuk menjaga iklim demokrasi Indonesia tetap kondusif. Ia mengaku selalu mengedepankan pendekatan persuasif sebagai pemimpin yang dipilih secara demokratis. Pengalaman pribadinya dalam kontestasi politik disebutnya sebagai pelajaran berharga tentang kedewasaan berdemokrasi.

“Saya maju ke rakyat lima kali meminta mandat. Empat kali saya tidak diberi mandat, empat kali saya kalah, tapi saya tidak mengganggu pemimpin yang mendapat mandat,” kata dia.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags