Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menyusun peta jalan jangka panjang untuk mengamankan pasokan gas domestik, dengan target utama mengonversi penggunaan LPG impor ke Compressed Natural Gas (CNG) produksi dalam negeri pada 2028–2029. Langkah ini diambil di tengah kondisi defisit produksi LPG yang mencapai lebih dari 6 juta metrik ton per tahun.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan, konsumsi LPG nasional mencapai 8,5 juta metrik ton setiap tahunnya, sementara kapasitas produksi dalam negeri hanya berkisar 1,8 hingga 1,9 juta metrik ton. Kesenjangan ini menyebabkan Indonesia mengalami kebocoran devisa hingga Rp140–Rp150 triliun per tahun untuk memenuhi kebutuhan impor LPG.
“Kalau CNG kita pakai, enggak perlu impor karena gas kita banyak,” ujar Bahlil di Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Menurut Bahlil, substitusi LPG ke CNG tidak hanya menekan impor, tetapi juga diproyeksikan memberikan harga energi 30 hingga 40 persen lebih murah bagi masyarakat dibandingkan LPG. Rencana ini didukung oleh temuan cadangan gas raksasa baru sebesar 5 triliun kaki kubik (TCF) oleh perusahaan energi asal Italia, ENI, di Kalimantan Timur.
“Apalagi kemarin kita baru ketemu di Kalimantan Timur yang dari ENI, kita dapat sekitar 5 TCF. Artinya 2028–2029 itu produksi ENI itu 3.000 MM, sementara untuk mengonversi CNG secara keseluruhan itu tidak lebih dari 800 MM. Dari sini aja udah clear,” kata Bahlil.
Ia menjelaskan, karakteristik gas bumi Indonesia sebagian besar merupakan jenis C1 dan C2, yang sangat cocok diolah menjadi LNG dan jaringan gas (jargas) domestik. Sementara LPG umumnya berasal dari gas jenis C3 dan C4. “Nah untuk kita mendorong bauran energi, mau tidak mau kita bikin CNG,” ucapnya.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman mengatakan, tahapan implementasi substitusi CNG masih digodok secara detail. Ia memperkirakan kebijakan ini mampu menghemat biaya energi hingga 30 persen dibandingkan LPG.
“Selain menguntungkan secara ekonomi bagi konsumen, penggunaan gas bumi juga akan memperkuat kedaulatan energi nasional karena sumber gasnya tersedia melimpah di wilayah Indonesia,” ujar Laode dalam talkshow bersama Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (ASPEBINDO).
Ketua Umum ASPEBINDO Anggawira menambahkan, para pengusaha di sektor gas telah lama menantikan komitmen nyata dari pemerintah untuk mengoptimalkan sumber daya gas bumi domestik. “Kami bersama asosiasi industri terus berupaya menyampaikan kajian bagaimana kita bisa mengoptimalkan gas bumi yang kita miliki. Kami yakin pengusaha di bidang gas ini sebenarnya sudah siap,” katanya.
Dari sisi pasar, Anggawira menilai CNG dan LNG menjadi solusi yang dinantikan pelaku UMKM dan industri rumah tangga. Dengan estimasi penghematan biaya energi hingga 20–30 persen, konversi ini diyakini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di lapisan masyarakat bawah. “Kegiatan ini memberikan rasa optimisme untuk kita semua. Kami di asosiasi saling mendorong dan memperkuat agar bisa mendorong pertumbuhan pengusaha-pengusaha di dalam negeri,” ujarnya.
Artikel Terkait
Pemerintah Pastikan Belum Ada Angka Final RKAB Nikel 2026, Masih dalam Tahap Evaluasi
Saham Cerebras Anjlok 14% Usai Proyeksi Margin Laba Menyusut, Kapitalisasi Pasar Terancam Hilang Rp98 Triliun
Menkes Desak Perlindungan Khusus bagi Dokter Muda dari Perundungan di Lingkungan Kerja
FIFA Susun Bagan 32 Besar Piala Dunia 2026, Afrika Selatan vs Kanada Jadi Laga Perdana Babak Gugur