Wakil Presiden Gibran Rakabuming menegaskan bahwa arah pembangunan nasional saat ini tidak lagi berpusat di Pulau Jawa, melainkan telah bergeser menjadi Indonesia sentris. Pernyataan tersebut disampaikan saat ia membuka Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV Tahun 2026 di Manokwari, Papua Barat, sebuah ajang yang menjadi simbol nyata dari komitmen pemerataan pembangunan di seluruh penjuru negeri.
Dalam sambutannya, Gibran mengungkapkan bahwa dirinya pernah mengunjungi lokasi yang sama pada November tahun lalu. Saat itu, Ruang Terbuka Publik (RTP) Borarsi masih dalam tahap pengerjaan. Kini, kawasan tersebut telah bertransformasi menjadi ruang publik representatif yang mampu menyelenggarakan event berskala nasional. “November tahun lalu saya pernah ke sini, ke lapangan ini. Saat itu masih proses pembangunan, tapi saya senang sekarang bisa difungsikan untuk event sebesar Pesparawi,” ujarnya, Minggu (21/6/2026).
Menurut Gibran, perubahan wajah RTP Borarsi menjadi lokasi penyelenggaraan Pesparawi Nasional XIV merupakan bukti konkret keseriusan pemerintah dalam mewujudkan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia. “Pembangunan sudah tidak lagi Jawa sentris, tapi Indonesia sentris. Itulah sebabnya pembangunan Papua jadi salah satu prioritas Bapak Presiden. Mulai dari pembangunan rumah sakit, sekolah rakyat, pasar, Trans Papua, MBG, kampung nelayan,” katanya.
Di sisi lain, Wakil Presiden menekankan bahwa pembangunan infrastruktur dan peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak dapat berjalan sendiri. Keduanya harus diiringi dengan terciptanya situasi yang aman, damai, dan kondusif. “Namun, dalam melakukan pembangunan dibutuhkan situasi yang kondusif dan damai. Oleh sebab itu, saya mengapresiasi tema Pesparawi tahun ini yang mengangkat soal perdamaian dan persaudaraan di tanah Papua,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Pesparawi Nasional XIV, Ali Baham Temongmere, menyatakan bahwa penyelenggaraan acara ini menjadi bukti nyata toleransi dan moderasi beragama yang telah tumbuh dan berakar di Papua Barat. “Ini bukan hanya slogan, tapi sebuah realitas,” ujarnya.
Ali Baham menambahkan, semangat persaudaraan lintas agama terlihat dalam berbagai aspek penyelenggaraan acara, termasuk keterlibatan kelompok hadrah dari umat Islam dalam parade pembukaan. Ia menegaskan bahwa sejarah masuknya agama-agama di Papua menunjukkan kuatnya nilai kebersamaan dan saling menghormati antarpemeluk agama. Peristiwa ini, menurutnya, menjadi cermin bahwa harmoni sosial bukan sekadar wacana, melainkan praktik hidup yang dijalankan sehari-hari oleh masyarakat Papua Barat.
Artikel Terkait
Berkas Perkara Korupsi Dana Nasabah PT DSI Dinyatakan Lengkap, Tiga Tersaka Segera Disidang
Polisi Bongkar Arena Judi Sabung Ayam di Makassar, Enam Orang Ditetapkan sebagai Tersangka
Polri Ingatkan Sanksi Pidana bagi Pengendara yang Tak Prioritasikan Pejalan Kaki di Zebra Cross
Menko Pangan Dorong Daerah Lain Tiru Program Pemilahan Sampah Jakarta