Pemerintah Didorong Perkuat Disiplin Fiskal dan Diplomasi Ekonomi Jaga Ketahanan Nasional

- Minggu, 21 Juni 2026 | 11:00 WIB
Pemerintah Didorong Perkuat Disiplin Fiskal dan Diplomasi Ekonomi Jaga Ketahanan Nasional

Pemerintah didorong untuk memperkuat disiplin fiskal, mengoptimalkan diplomasi ekonomi, serta mempercepat transformasi sektor riil sebagai langkah strategis menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang semakin kompleks. Langkah-langkah ini dinilai krusial untuk memitigasi tekanan eksternal yang berpotensi mengganggu stabilitas fiskal dan pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Anggota Komisi XI DPR RI, Kamrussamad, menekankan pentingnya penguatan diplomasi ekonomi, khususnya dalam menegosiasikan suku bunga dan tenor pinjaman dengan para kreditur internasional. Menurutnya, upaya ini diperlukan agar tekanan terhadap ruang fiskal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dapat diminimalkan secara signifikan.

“Diplomasi diperlukan untuk menegosiasikan kembali suku bunga serta tenor pinjaman, mengingat kondisi ekonomi global saat ini penuh ketidakpastian,” ujarnya dalam keterangan resmi pada Sabtu (20/6/2026).

Di tengah tantangan global dan domestik yang saling bertautan, Kamrussamad meminta agar APBN digunakan secara produktif untuk menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Ia mengingatkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menerbitkan Instruksi Presiden tentang efisiensi pada Januari 2025, yang bertujuan memastikan penggunaan anggaran negara berjalan secara produktif, terukur, dan memiliki hasil yang jelas.

“Makanya Pak Prabowo di bulan Januari 2025 menerbitkan inpres tentang efisiensi supaya penggunaan anggaran negara dilakukan secara produktif, terukur, dan memiliki outcome yang jelas,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai pelemahan nilai tukar rupiah dalam satu dekade terakhir merupakan cerminan dari tantangan struktural ekonomi yang masih perlu dibenahi. Meski demikian, ia mengapresiasi langkah pemerintah yang telah memperkuat fondasi ekonomi melalui pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan infrastruktur pendukung pertumbuhan industri manufaktur serta peningkatan konektivitas.

“Konektivitas yang semakin baik membuka peluang lebih besar bagi pelaku usaha daerah untuk menembus pasar ekspor,” ujarnya.

Fakhrul juga mencatat bahwa kinerja sejumlah indikator ekonomi, termasuk neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus, menunjukkan ketahanan ekonomi nasional tetap terjaga. Menurutnya, Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang kuat, didukung oleh sumber daya alam yang melimpah dan potensi sektor produktif yang besar.

“Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang kuat, didukung sumber daya alam yang melimpah dan potensi sektor produktif yang besar,” katanya.

Oleh karena itu, penguatan struktur ekonomi, peningkatan kualitas belanja negara, serta sinergi kebijakan fiskal dan moneter dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di tengah dinamika global. Ia menambahkan bahwa pembangunan iklim usaha yang kondusif akan menumbuhkan kepercayaan para pelaku usaha, sehingga serapan pertumbuhan kredit perbankan dapat berjalan lebih optimal.

“Dengan membangun iklim usaha yang kondusif ini menumbuhkan kepercayaan para pelaku usaha sehingga serapan pertumbuhan kredit kita di perbankan bisa lebih baik,” pungkasnya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar