Di tengah meningkatnya kebutuhan pendanaan, masih ada sebagian masyarakat yang belum terintegrasi penuh ke dalam sistem keuangan formal. Kondisi ini menunjukkan bahwa ruang untuk memperluas inklusi keuangan masih terbuka lebar guna mendorong aktivitas ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan.
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, tingkat inklusi keuangan perbankan baru mencapai sekitar 70 persen pada 2025. Artinya, masih ada sekitar 30 persen penduduk dewasa Indonesia yang belum mendapatkan layanan keuangan formal secara optimal atau masuk dalam kategori financially excluded.
Direktur Utama PT Indonesia Fintopia Technology (Easycash) Nucky Poedjiardjo menyatakan, perluasan akses keuangan yang inklusif menjadi salah satu prioritas utama perusahaan. Menurutnya, kehadiran layanan pinjaman daring (pindar) dapat menjadi jembatan untuk mengatasi kesenjangan akses kredit sekaligus mendukung inklusi keuangan dan pertumbuhan ekonomi.
“Easycash berkomitmen terus memperkuat penerapan tata kelola perusahaan yang baik, manajemen risiko, dan perlindungan konsumen sebagai fondasi dalam menghadirkan akses pendanaan yang luas bagi masyarakat,” kata Nucky dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025, Sabtu, 20 Juni 2026.
Komitmen tersebut tercermin dari penyaluran pendanaan yang terus bertumbuh. Sejak 2017, Easycash sebagai platform pindar yang berizin dan diawasi OJK telah menyalurkan pendanaan kepada lebih dari 10 juta penerima dana (borrower) dengan total nilai pinjaman mencapai Rp96,67 triliun.
Salah satu penerima manfaat adalah Ifa Maria Ulfa, seorang petani asal Jember yang mendapatkan akses pinjaman untuk memenuhi kebutuhan modal usaha tani. Menurut Ifa, akses pendanaan yang cepat membantunya memperoleh pupuk pada waktu yang tepat sehingga kegiatan budidaya dapat terus berjalan.
“Dana yang saya dapatkan sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan pembelian pupuk saat modal sedang terbatas. Proses pencairannya cepat sehingga saya bisa tetap menjalankan usaha tani tanpa harus menunda kebutuhan produksi,” ujar Ifa.
Bagi Ifa, akses pendanaan tersebut membantu menjaga keberlangsungan usaha tani yang menjadi sumber penghidupan keluarga sekaligus mengurangi ketergantungan pada pinjaman informal ketika kebutuhan mendesak. Dana yang ia peroleh digunakan untuk membeli pupuk tanaman cabai dan padi saat mengalami keterbatasan modal.
Sementara itu, Easycash juga memperkuat penerapan tata kelola perusahaan melalui penguatan fungsi pengawasan, manajemen risiko, sistem pengendalian internal, fungsi kepatuhan, serta audit internal dan eksternal. Langkah ini sejalan dengan implementasi POJK Nomor 40 Tahun 2024 yang juga mencakup peningkatan transparansi dalam pengelolaan perusahaan.
Nucky menjelaskan, penerapan tata kelola yang baik tidak hanya bertujuan memastikan kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga membangun perusahaan yang sehat. Ia meyakini, langkah ini dapat diandalkan dalam memperluas akses kredit masyarakat sekaligus memberikan perlindungan bagi konsumen.
“Tata kelola yang kuat akan memperkuat kepercayaan para pemangku kepentingan, sekaligus menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan perusahaan yang berkelanjutan. Ke depan, Easycash akan terus berfokus pada perluasan akses pendanaan bagi masyarakat, khususnya segmen unbanked dan underbanked,” tutup Nucky.
Di sisi lain, perusahaan juga berkomitmen mendorong peningkatan literasi keuangan agar masyarakat semakin bijak dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan layanan keuangan digital. Upaya ini dilakukan melalui berbagai program edukasi, seperti MOJANG (Modul Bijak Keuangan) dan platform edukasi ChatPindar.
Artikel Terkait
Ganda Putra Indonesia Ali Faathir/Devin Artha Tembus Final Macau Open 2026, Perpanjang Tren Empat Final Beruntun
KPK Periksa Eks Wamen Imipas Silmy Karim soal Asal-usul Aset yang Disita
Polisi Bekasi Tangkap Satu Pelaku Curanmor di Kayuringin Jaya, Komplotan Masih Buron
Persipura Jayapura Borong Pemain Timnas untuk Target Promosi ke Liga 1 Musim 2026/2027