Perempuan Magelang Sulap Singkong Jadi Produk Bernilai Tambah, Ciptakan Lapangan Kerja dan Tingkatkan Kesejahteraan Petani

- Jumat, 19 Juni 2026 | 16:45 WIB
Perempuan Magelang Sulap Singkong Jadi Produk Bernilai Tambah, Ciptakan Lapangan Kerja dan Tingkatkan Kesejahteraan Petani

Seorang perempuan di Magelang membuktikan bahwa singkong bukan sekadar komoditas murah, melainkan bisa menjadi motor perubahan sosial dan ekonomi masyarakat desa. Nurlaela, petani sekaligus pelaku usaha binaan program Desa Emas hasil kolaborasi Yayasan Indonesia Setara dan Inotek, berhasil mengolah bahan pangan sederhana itu menjadi produk bernilai tambah yang membuka peluang hidup lebih baik bagi banyak orang.

Melalui inovasi keripik singkong presto dan nori berbahan daun singkong, Nurlaela tidak sekadar membangun usaha sendiri. Ia juga menciptakan lapangan kerja bagi perempuan, petani, dan keluarga prasejahtera di sekitarnya. Perempuan asal Magelang, Jawa Tengah, itu mengaku sangat terbantu oleh pelatihan yang diberikan program tersebut, mulai dari teknik produksi hingga strategi pemasaran.

"Dapat pelatihan dari 0 sampai pelatihan ekspor, dari perbaikan kemasan, fotografi produknya jadi lebih bagus, desain kemasan dibuatkan yang baru, dan diberikan alat bantu produksi," ungkap Nurlaela, Jumat, 19 Juni 2026.

Selain pelatihan teknis, program ini membuka akses jaringan yang lebih luas. Nurlaela mendapat kesempatan mengikuti pameran di Jakarta, sehingga jangkauan pembelinya meluas hingga ke luar kota. "Saat ini banyak sekali konsumen yang mau beli produk-produk saya dari luar kota, karena mungkin produk saya masih jarang di pasaran," ujarnya.

Perjalanan Nurlaela dimulai dari keprihatinan melihat hasil panen singkong petani yang kerap tidak laku dan hanya dihargai sekitar Rp300 per kilogram. Dari dapur rumahnya, ia mulai bereksperimen mengolah singkong menjadi produk bernilai tambah. Ia berhasil mengembangkan keripik singkong presto dan kemudian menciptakan nori dari daun singkong, memanfaatkan limbah pertanian yang sebelumnya kurang bernilai.

Namun, dampak terbesar dari usahanya bukan hanya pada produk, melainkan pada kehidupan masyarakat sekitar. Kapasitas produksi yang awalnya hanya sekitar 5 kilogram singkong per hari kini melonjak menjadi 1 kuintal per hari. Produksi nori daun singkong pun terus meningkat berkat dukungan pelatihan dan pendampingan dari Desa Emas Yayasan Indonesia Setara.

Bagi Nurlaela, keberhasilan usaha bukan sekadar soal keuntungan. Ia memiliki mimpi yang lebih besar, yakni menghadirkan lebih banyak lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di desanya. "Saya ingin menambah karyawan lagi dan semakin mensejahterakan teman-teman di KUB," ungkapnya.

Melihat banyak ibu rumah tangga yang mengeluhkan keterbatasan ekonomi keluarga, Nurlaela mengajak mereka membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) Sari Rejeki. Wadah ini menjadi tempat pengolahan pangan lokal sekaligus pemberdayaan ekonomi perempuan. Dampak sosialnya pun nyata. Para anggota KUB yang sebelumnya bekerja sebagai buruh tani dengan upah sekitar Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per hari kini memperoleh pendapatan lebih baik, mencapai Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per hari melalui kegiatan produksi keripik singkong dan nori.

Selain memberdayakan perempuan, Nurlaela berhasil menciptakan dampak positif bagi petani lokal. Kebutuhan bahan baku yang terus meningkat mendorong semakin banyak petani menanam singkong. KUB Sari Rejeki membeli singkong petani dengan harga sekitar Rp2.000 per kilogram, jauh lebih tinggi dibanding harga pasar yang sebelumnya hanya berkisar Rp500 per kilogram. Kondisi ini mendorong peningkatan pendapatan petani sekaligus menghidupkan kembali minat masyarakat untuk membudidayakan singkong. Hingga saat ini, usaha yang dirintis dari skala rumahan tersebut telah berkembang pesat.

Founder Yayasan Indonesia Setara (YIS), Sandiaga Salahuddin Uno, menyebut kisah Nurlaela menjadi bukti bahwa inovasi berbasis potensi lokal dapat melahirkan perubahan sosial yang nyata. "Dari singkong dan daun singkong yang dulu dianggap biasa, kini tumbuh harapan baru bagi perempuan, petani, dan keluarga desa untuk meraih kehidupan yang lebih sejahtera," ujar Sandiaga Uno.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar