Tamaris Hydro Terbitkan Sukuk Ijarah Rp1 Triliun untuk Perkuat Pendanaan Energi Hijau

- Jumat, 19 Juni 2026 | 14:10 WIB
Tamaris Hydro Terbitkan Sukuk Ijarah Rp1 Triliun untuk Perkuat Pendanaan Energi Hijau

PT Tamaris Hydro, pengembang dan operator pembangkit listrik tenaga air swasta di Indonesia, melangkah ke pasar modal dengan menerbitkan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2026 senilai maksimal Rp1 triliun. Langkah korporasi ini dirancang sebagai bagian dari strategi pendanaan jangka panjang untuk memperkuat struktur permodalan, meningkatkan efisiensi pembiayaan, serta memperluas kontribusi perseroan dalam pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di tanah air.

Berdasarkan keterangan tertulis yang diterima pada Jumat (19/6/2026), sukuk ini memperoleh peringkat idAA(sy)(sf) dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO). Peringkat tersebut didukung oleh Fasilitas Pembiayaan atau Credit Enhancement Facility (CEF) dari PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) dengan nilai fasilitas standby maksimal Rp450 miliar. Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Tamaris Hydro Tahap I Tahun 2026 terdiri dari dua seri, yakni Seri A dengan tenor lima tahun dan Seri B dengan tenor tujuh tahun. Pembayaran imbalan ijarah dilakukan setiap tiga bulan atau kuartalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

Objek ijarah yang mendasari penerbitan ini berupa hak manfaat atas kapasitas listrik pembangkit milik perseroan sebesar 1,83 miliar kWh. Kapasitas tersebut menghasilkan pendapatan berulang (recurring income) dari kontrak jual beli listrik jangka panjang dengan PT PLN (Persero). Dana yang dihimpun dari penerbitan sukuk akan digunakan untuk refinancing sebagian pinjaman sindikasi perbankan pada pembangkit-pembangkit yang telah beroperasi secara komersial (commercial operation date/COD). Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi biaya pendanaan dan memperkuat posisi keuangan perseroan.

Penerbitan sukuk ini didukung oleh empat institusi sekuritas sebagai Joint Lead Underwriters, yaitu PT BCA Sekuritas, PT Binaartha Sekuritas, PT INA Sekuritas Indonesia, dan PT BRI Danareksa Sekuritas. Presiden Direktur PT Tamaris Hydro, M. Syahrial, menyatakan bahwa penerbitan ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan untuk mendukung percepatan transisi energi Indonesia.

“Melalui penerbitan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Tamaris Hydro Tahap I Tahun 2026, Perseroan berharap dapat memperluas partisipasi investor dalam pembangunan infrastruktur energi hijau nasional sekaligus menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Syahrial.

Ia menambahkan bahwa instrumen syariah ini menghadirkan alternatif investasi yang kompetitif. “Kami memberikan kesempatan bagi investor untuk berpartisipasi langsung dalam pembangunan infrastruktur energi bersih yang berkelanjutan,” tuturnya.

Adapun jadwal penawaran telah dirancang secara bertahap. Masa bookbuilding berlangsung pada 18 hingga 24 Juni 2026, diikuti pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 30 Juni 2026. Masa penawaran umum dijadwalkan pada 2 hingga 6 Juli 2026, penjatahan pada 7 Juli 2026, distribusi elektronik KSEI pada 9 Juli 2026, dan pencatatan di Bursa Efek Indonesia pada 10 Juli 2026.

Seiring meningkatnya kebutuhan energi bersih nasional, PT Tamaris Hydro menunjukkan pertumbuhan usaha yang berkelanjutan. Pada tahun buku 2025, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp563,7 miliar, dengan total aset Rp5,18 triliun dan total ekuitas Rp2,53 triliun. Dalam jangka panjang, perusahaan mencatat pertumbuhan konsisten dengan compound annual growth rate (CAGR) pendapatan sebesar 23,87 persen, CAGR EBITDA sebesar 28,45 persen, dan CAGR total aset sebesar 20,07 persen sejak 2014.

Sepanjang 2025, perseroan berhasil menyelesaikan pelunasan Obligasi Tamaris Hydro I Tahun 2022 Seri A senilai Rp200 miliar menggunakan kas internal. Selain itu, akuisisi PLTA Batu Gajah dengan kapasitas kontrak jual beli listrik sebesar 16 MW turut memperkuat portofolio aset produktif perusahaan.

Dari sisi lingkungan, operasional perseroan memberikan kontribusi signifikan terhadap pengurangan emisi karbon nasional. Berdasarkan perhitungan internal, total pengurangan emisi gas rumah kaca (GHG emission reduction) mencapai sekitar 551.550 ton CO₂-equivalent pada 2025. Angka ini meningkat dibandingkan kontribusi pada 2014 yang sebesar 518.845 ton CO₂-equivalent.

Perseroan juga aktif menjalankan program rehabilitasi lingkungan melalui penghijauan di sekitar wilayah operasional pembangkit. Hingga akhir 2025, secara kumulatif telah ditanam sebanyak 417.534 pohon, meningkat dari 359.375 pohon pada tahun sebelumnya. Kegiatan lain yang dilakukan meliputi menjaga keberlanjutan daerah aliran sungai (DAS), meningkatkan konservasi lingkungan, serta mendukung ketahanan sumber daya air yang menjadi fondasi utama operasional pembangkit listrik tenaga air.

“Sebagai bagian dari implementasi prinsip Environmental, Social and Governance (ESG) secara berkelanjutan, Perseroan telah menerapkan standar tata kelola dan sistem manajemen yang mengacu pada sertifikasi ISO 9001 dan ISO 14001,” kata Syahrial.

Dengan target pemerintah Indonesia untuk mencapai porsi EBT sebesar 34,3 persen pada 2034, perseroan meyakini pembangkit listrik tenaga air akan memainkan peran penting. Karakteristik energi bersih yang stabil, berkelanjutan, dan dapat diandalkan sebagai sumber beban dasar (baseload renewable energy) menjadi alasan utama keyakinan tersebut.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar