Kritik Bertubi-tubi Hantam Trump Usai Teken Nota Kesepahaman dengan Iran

- Kamis, 18 Juni 2026 | 17:16 WIB
Kritik Bertubi-tubi Hantam Trump Usai Teken Nota Kesepahaman dengan Iran

Gelombang kritik keras menghantam Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, setelah ia menandatangani nota kesepahaman dengan Iran yang bertujuan mengakhiri perang di Timur Tengah. Sejumlah media terkemuka di Negeri Paman Sam secara terbuka menyebut kesepakatan itu sebagai langkah yang mengabaikan tujuan awal perang, justru memperkuat posisi Iran, dan menghabiskan ratusan miliar dolar tanpa hasil yang jelas.

Nota kesepahaman tersebut diteken Trump pada Rabu, 17 Juni, dan dimaksudkan sebagai jalan keluar dari konflik berkepanjangan yang telah mengguncang stabilitas ekonomi global. Namun, alih-alih mendapat dukungan, langkah ini justru menuai kecaman, tidak hanya dari kalangan penentang, tetapi juga dari para pendukung kebijakan perang sebelumnya.

Jaringan televisi MS NOW, misalnya, dengan tegas menyatakan bahwa Gedung Putih telah menyetujui perpanjangan gencatan senjata yang tidak memenuhi satu pun tujuan yang ditetapkan sebelum perang dimulai. Mereka menambahkan bahwa kesepakatan itu memberikan konsesi keuangan yang sangat besar kepada Teheran.

“Sekarang, pemerintah mati-matian mencoba membantah hal itu. Sederhananya, Trump dipermainkan oleh Iran, dan tidak ada yang percaya pada upaya pembelaannya,” demikian pernyataan media tersebut, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita AFP pada Kamis, 18 Juni 2026.

Sementara itu, Wall Street Journal, salah satu media terkemuka AS, menyebut kesepakatan itu sebagai taruhan kebijakan luar negeri terbesar yang pernah diambil presiden pada masa jabatan keduanya. Surat kabar tersebut juga memprediksi bahwa Trump akan menghadapi perlawanan sengit dari para pendukung kebijakan garis keras terhadap Iran, yang menilai bahwa presiden memberikan jauh lebih banyak daripada yang ia peroleh dari perundingan itu.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar